RSS

SEKILAS SEJARAH NAHDLATUL ULAMA (NU)

16 Okt

PENDAHULUAN

Nahdlatul Ulama (NU) adalah sebuah fenomena yang unik dan menarik untuk ditelurusi tentangnya. Sebagai sebuah organisasi dengan pengikut terbesar dan terbanyak di Indonesia. Organisasi yang didirikan oleh para ulama tradisional sebagai penggagas dan penggeraknya. Salah satu Organisasi nonpemerintah paling besar yang mengakar di kalangan bawah. Dan yang penting, sebuah organisasi sosial keagamaan dengan mengakarkan gerakkannya pada kultural yang mampu eksis di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi Hal ini tidak terlepas dari pandangan keagamaan Ahlisunnah wal Jama’ah (Aswaja) sebagai teologi sekaligus pola berfikir yang dijalankan warga NU. Kiprahnya sangat besar bagi Indonesia baik sebelum maupun setelah kemerdekaan khususnya dalam pengembangan masyarakat (community development) sebagai bagian dari keprihatinnya. Segala dinamika yang terjadi pada NU, Bagaimana Sejarah, Arti dan tujuan- tujuan pendiriannya, Tradisi-tradisi kultural, Pandangan-pandangan keagamaannya serta Kiprahnya dalam eksistensi pengembangan masyarakat sipil (civil society) menarik untuk dikaji lebih dalam lagi. Dalam makalah singkat ini sekilas membahas tentangnya.

PEMBAHASAN

  1. Sejarah dan Latar belakang Pendirian Nahdlatul Ulama (NU)

NU lahir dari proses hasil istikharah ulama besar (KH Khalil Bangkalan dan KH Hasyim Asy’ari) dengan isyarah tongkat dan tasbih. Keorganisasi NU cepat menyebar. Data tahun 2000, jaringan NU meliputi 31 Wilayah, 339 Cabang, 12 Cabang Istimewa, 2.630 Majelis Wakil Cabang/MWC dan 37.125 Ranting. Selain itu juga membentuk baik melalui Lembaga-lembaga, maupun perangkat badan otonomnya (Muslimat, Fatayat, GP. Ansor, IPNU-IPPNU, dll). Mendirikan lembaga pendidikan dari tingkat TPQ, PAUD sampai pada perguruan tinggi, membangun rumah sakit, koperasi, membuat media cetak maupun elektonik (ada koran Duta masyarakat, Harian Bangsa, Majalah, Buletin, TV 9 dan NU Online), membentuk Aswaja centre, membentuk Himpunan pengusaha NU (HPN)[1].

Latarbelakang kelahiran NU

Kelahiran NU dimotori oleh para ulama pesantren yang memiliki kesamaan pandangan dan wawasan keagamaan. Yang pada 31 Januari 1926 atau pada 16 Rajab 1344 H sepakat membentuk organisasi bernama Nahdlatul Ulama, yang berarti “Kebangkitan Ulama”, Organisasi ini dipimpin KH. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar. Begitu juga kelahiran NU tidak bisa dilepaskan dari konteks waktu yang mengitarinya. Perkembangan dunia Islam di Timur Tengah, sebagai gelombang perubahan yang mempengaruhi perjalanan sejarah, kebudayaan dan politik di Indonesia serta terjadinya kolonialisme Belanda[2]. KH. Masdar Farid Mas’udi berpendapat, Nahdlatul Ulama hadir, antara lain sebagai reaksi atas gerakan puritanisme Wahabi yang gemar menuding pihak lain sebagai bid’ah dan tersesat. Tak henti-hentinya Wahabis ini mempersoalkan tradisi, khususnya tradisi NU, dan menganggapnya sebagai yang harus diberantas; membersihkannya dari muka bumi adalah jihad suci, kalau perlu dilakukan dengan prinsip fasist yang cenderung menghalalkan segala cara[3]. lanjutnya bagi seorang Nahdiyin, perbedaan tafsir, madzhab, atau aliran dalam tiap-tiap agama adalah cermin dari keluasan makna yang terkandung dalam ajaran-ajaran kitab-kitab suci. Demikian juga kekayaan budaya dan sejarah umat masing-masing adalah cermin dari kekayaan ciptaan Allah dalam kehidupan manusia. Senada dengan itu, Muhammad Thaha Ma’ruf kelahiran NU karena persoalan agama dalam suasana perdebatan munculnya beberapa alira baru yang mengusung ide modernisme[4].

Begitu juga latar belakang berdirinya NU tidak lepas dari situasi kolonialisme yang turut mendorong organisasi Ulama ini. Para pendirinya berkeinginan menumbuhkan rasa nasionalisme di kalangan ummat Islam. Secara langsung pembangkitan rasa nasionalisme ini dimaksudkan untuk melawan Belanda. Maka dengan turutnya para pemimpin Agama (Ulama, Kiai) perjuangan cukup besar. Bisa dilihat dari Pemberontakan Diponegoro, Perang Paderi, Pemberontakan Banten, Pemberontakan Surabaya peran ulama cukup besar. Pendapat lain mengatakan NU didirikan untuk mewakili kepentingan kiayi, vis a vis pemerintah dan juga kaum pembaru dan untuk menghambat perkembangan organisasi-organisasi yang hadir terlebih dahulu[5].

Keberagaman analisa seputar kelahiran Nahdlatul Ulama menunjukkan tingginya respons masyarakat terhadap organisasi para ulama ini, pada awalnya menurut Saifuddin Zuhri sesuatu yang wajar, sebab kelahiran NU saat itu memang tidak menarik bagi para politisi, kaum pergerakkan, akademisi, peneliti. Namun Martin Van Bruinessen memandang, Tujuan-tujuan pendiriannya lebih bersifat konkret dibandingkan dengan usaha melakukan perlawanan terhadap serangan kaum pembaharu. Tujuan-tujuannya berhubungan dengan perkembangan internasional pada pertengahan tahun 1920-an, penghapusan jabatan khalifah, serbuan kaum wahabi atas Makah, dan pencarian suatu internasionalisme Islam yang baru. Raja Su’udi sebagai penguasa baru negeri Hijaz gencar melakukan gerakan penyamaan satu madzhab (Wahabi), bagi kalangan pesantren hal ini mencemaskan yang akan membatasi kebebasan bermadzhab di Mekah dan Madinah. Untuk menyampaikan pandangan-pandangan dari ulama Pesantren, KH. Abdulwahab Chasbullah sebagai ulama yang mewakili kepentingan pesantren, Namun karena tidak mendapat respon dan tidak diakomodir dalam hasil rekomendasi Kongres V Umat Islam Indonesia di Bandung untuk ikut serta kongres ummat Islam Internasional. Atas restu KH. Hasyim Asy’ari bersama kelompok Taswirul Afkar, Nahdlatul Wathan bertekad mengirimkan delegasi ke Muktamamar Dunia Islam6[6]. Utusan ini awalnya dinamakan Komite Hijaz, demi untuk terkesan delegasi ini dari luar Arab maka kemudian digunakanlah nama Nahdlatul Ulama. Maksud delegasi semata-mata memberikan penjelasan yang komprehensif kepada Raja Su’ud tentang pentingya bersikap toleransi, saling menghormati dan mengakui realitas perbedaan pendapat di kalangan ummat Islam.

  1. Arti, Prinsip, Tujuan Pendirian Nahdlatul Ulama

Secara etimologi, Nahdlatul Ulama terdiri dari dua kata bahasa Arab, nahdlah artinya “bangkit”, “bangun”, “loncatan”, dan al-ulama’ artinya “kelompok agamawan”. Sedangkan secara epistemology, Nahdlatul Ulama adalah komunitas cendekiawan (ulama) yang mampu menerima, melestarikan, dan meneruskan tradisi dan budaya generasi sebelumnya serta mampu melakukan eksplorasi, inovasi dan kreasi yang lebih baik dan bermanfaat. Dengan demikian Nahdlatul Ulama secara spesifik mempunyai kesadaran historis dan kemampuan mereformasi kondisi yang secara kultural maupun pemikiran yang relevan[7]. Sedangkan dalam rumusan Khittah Nadhalatul Ulama ditegaskan bahwa Nahdlatul Ulama adalah jamiyah (organisasi) keagamaan yang berpaham ahlussunah wal jamaah, berhaluan salah satu dari madzhab empat yang terobsesi meningkatkan kualitas manusia bertakwa[8].  Nahdlatul Ulama berarti Jam’iyah Diniyah yang bermotif keagamaan dan berlandaskan keagamaan sehingga segala sikap, perilaku, dan karakteristik perjuangannya selalu disesuaikan dan diukur dengan norma dan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.

Tujuan Pendirian NU sebagaimana tertuang dalam Anggaran Dasar pertama tanggal 6 pebruari 1930 No.IX, Pasal II, “adapun maksud perkumpulan ini yaitu memegang dengan penuh teguh pada salah satu dari madzhabnya Imam empat, yaitu Imam Muhammad bin Idris As Syafi’iyah, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah. An Nu’man atau Imam Ahmad bin Hambal, dan mengerjakan apa saja yang menjadikan kemaslahatan Agama Islam”. Dan Pasal III, yang berbunyi, “Untuk mencapai maksud perkumpulan ini, maka diadakan ikhtiar: a. mengadakan perhubungan di antara ulama-ulama yang bermadzab tersebut dalam Pasal II; b. memeriksa kitab-kitab sebelum dipakai untuk mengajar, supaya diketahui apakah itu daripada kitab-kitab Ahlussunah atau kitab-kitab ahli bid’ah. c. menyiarkan agama Islam berasaskan pada madzab sebagai tersebut dalam Pasal II dengan jalan apa saja yang halal; d. berikhtiar memperbanyak madrasah-madrasah yang berdasar agama Islam; e. memperhatikan hal-hal yang berhubungan masjid-masjid, surau-surau, begitu juga dengan hal ikhwalnya anak-anak yatim dan orang yang fakir miskin; f. mendirikan badan-badan untuk memajukan urusan pertanian, perniagaan dan usahaan yang tidak dilarang oleh Syara’ agama Islam[9]”.

Tujuan Utama NU adalah mempertahankan tradisi keagamaan, dalam beberapa hal ia lebih dapat dilihat sebagai upaya menandingi daripada menolak gagasan- gagasan dan praktik-praktik yang lebih dahulu diperkenalkan kalangan reformis[10]. K.H. Hasyim Asy’ari menegaskan prinsip dasar organisasi NU. Rumusan beliau tuangkan dalam kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian direalisasikan dalam khittah NU, yang dijadikan sebgai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang social, keagamaan dan politik.

هلهأ ريغ هيلو اذا نيدلا ىلع اوكباو هلهأ هيلو اذا نيذلا ىلع اوكبت لا

(Jangan kalian menangisi agama, bila ia dikuasai oleh ahlinya. Dan kalian tangisilah agama itu, bila ia dikuasai oleh yang bukan ahlinya).

Mainsterm yang cukup terkenal di kalangan NU, “Al-Muhafazhah ‘alal Qadimish Shalih wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah”. (Menjaga dan mempertahankan tradisi lama yang baik dan berkreasi untuk membuat peradaban baru yang lebih baik).

  1. Perjuangan NU dan Kiprahnya dalam kemerdekaan Indonesia

Perjalanan Nahdlatul Ulama berawal dari sebuah kelompok kajian pencerahan Tashwirul Afkar (1914), kemudian berkembang menjadi Nadhlatul Tujjar (1916), Syubbanul Wathan (1918), Nahdalatul Wathan (1924), dan akhirnya menjadi Nahdlatul Ulama (1926). Dalam kiprahnya selama 80 tahuan, jati diri NU pada hakekatnya tidak pernah berubah atau memudar, yakni mengembangkan mainsterm ke-Indonesiaan yang dijiwai semangat keislaman secara inklusif dan kultural. Penggunaan nama Nahdlatul Ulama atas usul Alwi Abdul Azis dari Malang bukannya yang lain, bukan hanya secara kebetulan semata, tetapi justru kata Ulama itu membuktikan adanya ciri yang amat melekat pada diri NU dan merupakan cirri differensi yang membedakan dirinya dari fenomena organisasi ini, justru bukan karena beliau-beliau itu sebagai pemrakarsa dan pendirinya, namun lebih dari itu bertitik tolak dari ujud keberadaannya dalam di tengah-tengah masyarakat[11].

Salah satu tindakan yang sangat berani yang pernah di ambil NU. NU dalam muktamarnya mengeluarkan fatwa “Resolusi Jihad” melawan penjajah Belanda. Perang suci ini diwajibkan agama untuk ikut serta dalam perjuangan mempertahankan. Resolusi ini menyatakan bahwa wajib berjuang setiap muslim yang mampu berada dalam radius 94 km dari tempat berlangsungnya pertempuran atau tempat musuh berada. Pada 10 November, dua minggu setelah kedatangan pasukan Inggris di Surabaya, sebuah pemberontakan massal pecah, di mana banyak pengikut NU yang terlibat aktif. Banyak diantara pejuang muda yang mengenakan jimat yang diberikan kiai desa kepada mereka12.[12]

Resolusi Jihad berdampak besar bagi pembentukan pasukan-pasukan nonreguler diantaranya Sabilillah dengan pemimpin komando tertingginya juga pemimpin NU Kiai Masjkur. Para kiai dan pengikut mereka sejak awal terlibat aktif dalam perang kemerdekaan. Banyak yang bergabung dalam barisan Hizbullah dimana banyak orang yang terlibat memiliki latar belakang NU. Komandan tertingginya seorang pemimpin NU asal Sumatra Utara (Mandailing), Zainul Arifin. Begitu juga tentang penetapan NU atas Pancasila sebagai satu-satunya asas. NU adalah ormas yang pertama kali menerima Ketetapan MPR No. II tentang GBHN yang menyerukan Pancasila sebagai satu-satunya asal. Bahkan Kiai As’ad Syamsul Arifin telah mempertegas penerimaan sebagian besar Ulama dan ummat Islam Indonesia bahwa menerima Pancasila hukumnya wajib. NU sendiri dalam Anggaran Dasarnya Pasal 3, hasil Muktamar ke-26 di Semarang, telah menyebutkan bahwa landasan perjuangan NU adalah Pancasila dan UUD 1945[13]. Dalam pandangan Kiai Achmad Siddiq, lima luhur (Pancasila) merupakan consensus maksimal yang merupakan “kalimatin sawaain bainanaa wa bainakum”, yaitu suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, Alquran Surat Ali Imron ayat 64. Bagi bangsa dan Negara Indonesia di dalam tata kehidupan bernegara dan bermasyarakat dengan segala kemajemukannya[14].

Sementara Sikap politik NU dapat terbaca dengan pembagian periode konvensional; periode pertama, periode pemerintah kolonial Belanda, yang dicirikan sikap abstain terhadap politik (1926-1942). Periode ini diikuti Pendudukan Jepang, masa ketika kiai mulai terlibat dalam politik (1942-1945). Perjuangan kemerdekaan (1945-1949) merupakan periode di mana NU terlibat secara aktif dan radikal dalam politik. Pada tahun-tahun demokrasi parlementer (1949-1959) NU berubah bentuk menjadi partai politik. Pada Demokrasi Terpimpinnya Soekarno (1959-1965), NU menjadi penyangga rezim otoriter populis ini. Pada masa transisi yang keras (1965- 1966), NU mendefinisikan ulang peranannya. Orde Baru Soeharto (1967-1998), masa ketika NU beberapa kali menampilkan diri sebagai kekuatan oposisi yang tegar, namun mengalami depolitasi yang luar biasa[15]. Kembalinya NU kepada Khittahnya 1926, menegaskan kembali tujuan awal didirikannya mengurusi persoalan agama, pendidikan, sosial kemasyarakatan saja, artinya NU meninggalkan politik praktis dengan pertimbangan bahwa selama ini NU terlampau mengedepankan politik yang kenyataanya bukan semata-mata kepentingan organisasi melainkan untuk kepentingan pribadi-pribadi, dari pada urusan sosial

keagamaan[16].

  1. Pergerakan Organisasi

Setelah kembali ke Khittah nya NU 1984 merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran Ahlussunah wal Jama’ah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskan kembali hubungan NU dengan Negara. Gerakan tersebut berhasil membangkitkan kembali gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU. Di bidang Agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan.

Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai- nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas. Gerakan keummatan dalam bidang pendidikan sangat berpengaruh adalah melalui jalur pesantren, guru ngaji, dan pendidikan diniyah yang didirikan oleh warga NU. Sampai ada jargon bahwa NU itu pesantren besar dan Pesantren adalah NU kecil. Di bidang sosial budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai keislaman dan kemanusiaan. Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat.

  1. Tradisi-Tradisi dan Nuasa Sufistik NU

NU adalah sebuah organisasi sosial keagamaan yang dari awal tidak malu-malu mengusung tradisi lokal. Karenanya NU selalu menampilkan wajah Islam yang khas lokal dan moderat yang tidak jarang justeru terasa minoritas di tengah-tengah masyarakat muslim dunia. Dalam buku Tradisi orang-orang NU secara lengkap dituliskan Tradisi-tradisi warna NU; pertama; berhubungan dengan landasan-landasan yang menjadi pegangan warga NU, diantaranya; landasan Ahlussunah Wal Jama’ah, mengikuti sabahat Nabi, mengikuti mayoritas, mengikuti ulama, hukum bermadzab, kitab-kitab muktabarah, thariqah muktabarah, system pengambilan keputusan sehingga sulit bagi NU terlepas dari fitnah ahli bidah. Kedua berkaitan masalah Ibadah; mengucapkan niat secara jelas, doa iftitah, membaca basmalah, doa qunut, mengangkat tangan, membalikkan tangan, tahiyat, salam, wiridan, zikiran, 2 kali adzan jum’at, jum’atan kurang, qabliyah dan ba’diyah Jum’at, shalat tarawih 23 rakaat, disambung dengan salat witir,  ziarah qubur. Ketiga yang berkaitan masalah Sosial; memutar tasbih, membaca “Sayyidina”, berjabat tangan sesudah shalat, pujian, penetapan hari raya/puasa Ramadhan, mengganti nama Haji, kulit kurban untuk mushala, sedekah bagi yang sudah meninggal, membaca shalawat ketika memandikan mayit, membangun dan menghias makam, talqien, peringatan 7, 40, 100, 1000 hari, haul, tahlil, tahlil di makam, istighatsah, menanam ari-ari dan tingkeban, memperingati mauled nabi, shalawat nariyah/badriyah, barzanzi, diba’an, burdahan, manaqiban, membaca surat yasin, tawasul, mencium tangan, mantra[17].

Kiayi Ali Ma’shum[18], Rois Akbar mengomentari banyaknya kritikan tentang tradisi keagaamaan yang dijalankan NU, misalkan tentang Doa dengan perantara (tawassul) dengan mengambil Surat Al Maidah ayat 27, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (pengabdian) dari orang-orang bertakwa”. Dan ayat 35, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”. Jadi Tawassul dapat dilakukan lewat orang-orang yang dekat pada Allah, baik masih hidup maupun sudah wafat. Tawassul dapat dilakukan karena ada dalil-dalil yang dijadikan rujukan.

Dengan melandaskan keagamaannya pada tradisi NU tidak kering dari nilai-nilai Sufistik yang terasa kental dengan NU. Pesantren sebagai basis NU merupakan sarana pendidikan di mana sufistik atau tarekat menjadi bagian yang diajarkan di dunia pesantren. Maka pendekatan sufistik inilah yang mempengaruhi pola berislam masyarakat pesantren yang dikenal Nahdlatul Ulama. Pemikiran pendakwah yang masuk ke Indonesia mengambil policy dakwah yang lebih mementingkan “substansi” dari pada performa yang verbal dan priskriptif. Hal ini, karena dakwah Islam senantiasa didasari oleh penanaman nilai-nilai sufistik yang memang lebih mengedepankan aspek religiusitas yang mendalam. Nurcholis Madjid mengatakan bahwa mainstream Islam di Indonesia adalah Nahdlatul Ulama. Maka apabila kemudian muncul muslim Indonesia yang radikal dan puritan berarti hal itu merupakan antithesis dari keberagamaan yang selama ini telah menjadi religious culture masyarakat muslim Indonesia. Munculnya organisasi atau harakah yang mengatasnamakan Islam dan lebih cenderung untuk melakukan perlawanan terhadap Negara sebenarnya bisa disebut sebagai dinamika yang bersifat transisional.

Nahdlatul Ulama adalah bagian dari gerakan yang berupaya mensetimbangkan kembali ketiga visi Islam, Aqidah, Syariah, dan Siyasah. di mana masa Rasulullah mampu mensetimbangkan ketiga tersebut. Namun dalam perkembangannya umat ada yang dominan sebaliknya ada yang mulai terkikis. maka NU ketiga visi islam tersebut dengan berpijak pada gerakan kultural. Visi kultural NU mampu menyematkan tradisi moderasi dan toleransi umat Islam. Dalam konteks hubungan agama vis a vis Negara, alur pemikiran keislaman NU bersifat akomodatif. Artinya Negara NKRI tidaklah bertentangan dengan misi profetis Islam. NU sebagai ormas yang pertama menerima pemberlakukan asas tunggal pancasila di Indonesia. Dengan alasan Pancasila tidak bertentangan dengan Islam dan Pancasila tidak akan menjadi agama.

Salah satu alasan kekukuhan NU mengusung tradisi adalah kesinambungan khazanah keislaman, baik berlatar Timur Tengah, Asia jauh, Afrika maupun local nusantara. Said Aqil Siraidj, Ketua PBNU sekarang memberi catatan terkait tentang NU. Pertama, ahlussunah wal jamaah adalah manhaj al-fikr yang setiap waktu membutuhkan kreasi-kreasi sebagai konsekuensi dari tuntutan masyarakat Islam.

Kedua, secara kultural, NU merupakan jam’iyah pergumulan pemikiran untuk secara aktif melahirkan gagasan-gagasan orisinil di bidang keagamaan, kultural, ekonomi, termasuk juga politik. Sedangkan dari sisi kultural, di setiap kurun waktu, NU mempunyai pola implementasi dengan tanpa menapikan ketiga visi Islam[19]. Adapun tarekat yang dianut oleh Nahdlatul Ulama adalah; Qodiriyah, Syadziliyah, Naqsabandiyah, Khalwatiyah, Sattawiyah, Samaniyah, Tijaniyah, Qodiriyah wa Naqsabandiyah. Dan Syeikh Abdul Qodir Al Jilani menempati posisi yang sangat istimewa dikalangan Nahdiyin. NU menjadi keorganisasian bagi tarekat- tarekat di bawah NU dengan mendirikan Jama’iyah Ahl ath-Thariqah al-Mu’tabarah an-Nadhiyah. Organisasi ini sebagai payung bagi para guru tarekat yang berafiliasi dengan NU, merupakan saudara penting NU dan tentu saja sangat berpengaruh[20].

  1. Faham keagamaan

Sejak awal berdirinya NU bahwa ia merupakan penganut Ahlussunah Wal Jamaah, sebuah paham keagamaan yang terispirasi sabda nabi. “Demi zat diri Muhammad berada ditangan-Nya, sungguh umatku akan bercerai berai menjadi 73 firqah. Satu masuk surga dan yang 72 masuk neraka. Nabi ditanya: siapakah yang masuk surga itu, ya, Rasul? Nabi menjawab: Ahlussunah Wal Jamaah”. KH. Siradjuddin, Penulis I’tiqad Ahlussunah Wal Jamaah menjelaskan definisi secara harfiah Ahlussunah Wal Jamaah berarti penganut sunnah Nabi Muhammad dan Jamaah (sahabat-sahabat). Secara ringkas berarti segolongan pengikuti sunnah (jejak) Rasulullah Saw yang di dalam melaksanakan ajaran-ajarannya beliau berjalan di atas garis yang dipraktikkan oleh Jamaah (sahabat Nabi)[21]. K.H. Bisri Mustofa, seorang Ulama asal Rembang mengartikan Ahlussunah Wal Jamaah sebagai paham yang berpegang teguh kepada tradisi sebagai berikut[22].

  1. Dalam bidang hukum-hukum Islam (fikih) menganut salah satu ajaran dari empat madzab: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Dalam praktikkannya para kiai merupakan penganut kuat mazhab Syafi’i.
  2. Dalam soal-soal tauhid, menganut ajaran-ajaran Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al Maturudi.
  3. Dalam bidang tasawuf, menganut dasar-dasar ajaran Imam Abu Qosim Al Junaidi Al Baghdadi yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.

Pandangan Hasyim Asy’ari mengenai Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah merupakan counter-discourse terhadap isu pembaruan Islam, meliputi kemadhhaban, ijtihad, taqlid, sunnahdan bid’ah, sekaligus justifikasi dan kritikterhadap keberagamaan kalangan Islam tradisional, kedua, pandangan Hasyim dipengaruhi oleh tradisi intelektual abad pertengahan. Pilihannya terhadap sumber-sumber otoritatif tertentu dari generasi itu, mengukuhkan identitasnya sebagai ahl al-hadith. Identitas ini tergambar jelas dari corak karya-karyanya. Meskipun demikian, pemikiran Hasyim tidak bersifat replikatif, karena mempertimbangkan relevansi rujukan karyanya terhadap konteks sosio-relegious muslim Jawa, dan ketiga, keunikan pandangan Hasyim justeru tercermin dari kediriannya sebagai seorang Ahli Hadith dari kalangan pendukung pola kemadhhaban. Orisinalitas gagasan Hasyim terletak pada konsistensinya menjaga otentisitas Islam di tengah tarik menarik orientasi ideology Islam modernis dan tradisionalis. Disinilah karya Hasyim menemukan relevansi akademisnya, yakni menawarkan dialog dan perspektif baru tentang ”Islam Otentik”. Secara teoritis menganut konsep sunnisme. Pandangan Hasyim dapat diintrodusir sebagai sunni-partikular (particular sunnism), yaitu paham Ahl al-Sunnah wa al- Jama`ah yang telah berdialog dengan dinamika keagamaan di Indonesia, khususnya dialektika Islam modernis-tradisionalis pada awal abad ke-20[23]. Dalam situs resminya yang dikutip DR. Khalimi[24], NU mengidentifikasikan paham keagamaannya dengan faham Ahlussunah wal jama’ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum eksktrim naqli (skripturalis). Maka dalam pemikirannya NU menjadikan Alquran, Sunah dan menggunakan kemampuan akal serta ditambah dengan pemahaman realitas kehidupan sosial.

Cara pandang seperti ini dapat mudah dipahami pandang keagamaan yang dianut NU. Inilah yang membedakan umat Islam yang menamakan dirinya penganut Ahlussunah Wal Jamaah lainnya. Dengan cara pandang seperti ini, Zamakhsyari memandang sebagai aspek yang menjadi dasar kekuatan dan pengaruh kuatnya NU di tanah Air. Ajaran Islam yang dipraktikkan NU (Kiai) disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia, berakulturasi dengan kehidupan kultural dan sosial masyarakat Indonesia. Sementara bagi kalangan pembaharu hal ini menjadi sasaran kritik mereka atas NU.

Kekuatan lain dalam analisis Machrus Irsyam (kolomnis politik) basis masa (struktur sosial) yang bertumpu pada massa pondok pesantren yang umumnya terdapat di daerah pedesaan, di mana keduanya mereka dua kesatuan yang utuh. Dawam Raharjo menambahkan bahwa lahirnya NU merupakan langkah pembaharuan terhadap aspirasi dan realita sosial masyarakat ketika itu, semua itu karena landasan NU yang dinamis dan modern[25]. Sebagai konsekuensi dari ajaran Ahlussunah Wal Jamaah yang dianut, ajaran bermazhab, maka NU menganut paham keulamaan[26]. Paling tidak hal ini tercermin26 dari namanya, Nahdlatul Ulama yang berarti “Kebangkitan para ulama”. Kiai Achmad Siddiq memberi komentar perihal nama ini. Katanya, “Pemilihan nama ini, bukan Nahdlatul Muslimin atau Nahdlatul Ummah umpamanya, membuktikan betapa penting dan khasnya kedudukan Ulama dalam ja’iyah Nahdlatul Ulama. Penghormatan yang amat tinggi terhadap para Ulama ini merupakan refleksi dari tradisi berpikir yang mazhab. Bagi NU bermazhab merupakan hal yang mutlak. Lebih lanjut Kiai Achmad Siddiq memberi uraian kriteria pemberian gelar ulama kepada seseorang. Pertama, norma pokok yang harus dimiliki oleh seorang ulama adalah ketaqwaan kepada Allah. Ke dua, seorang ulama mempunyai tugas utama mewarisi misi (risalah) Rasulullah meliputi; ucapan, ilmu, ajaran, perbuatan, tingkah laku, mental dan moralnya. Dan ke tiga, seseorang bisa disebut ulama apabila memiliki cirri utama dalam kehidupan sehari-hari, seperti; tekun beribadah (baik yang wajib maupun sunnah), zuhud (melepaskan diri dari ukuran dan kepentingan materi duniawi), mempunyai ilmu akhirat (ilmu agama dalam kadar yang cukup) mengerti kemaslahatan umat (peka terhadap kepentingan materi duniawi), mempunyai ilmu akhirat (ilmu agama dalam kadar yang cukup), mengerti kemaslahatan umat (peka terhadap kepentingan umum) dan mengabdikan seluruh ilmunya untuk Allah dilembari niat yang besar, baik dalam berilmu maupun beramal. Maka peran dan posisi yang besar ditempati oleh para ulama, kiayi baik secara kultur maupun dalam kepenguruan struktural organisasi NU. tidak salah Geertz 1960 menyebut para kiai sebagai “a cultural broker”, urunannya terhadap proses pengembangan masyarakat boleh dikatakan tidak kecil.

PENUTUP

Nahdlatul Ulama didirikan oleh ulama pengasuh pesantren yang di dalam komunitas Islam mempunyai kesamaan wawasan, pandangan, sikap dan tatacara pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam Ahlus sunnah wal Jamaah. Kesamaan ini pun membudaya hingga menjadi (watak) karakter itu dilembagakan dalam NU sebagai wadah perjuangan bersama dan pengejawantahan rasa tanggung jawab yang mendalam atas kelestarian Izzul Islam wal Muslimin. NU sebagai organisasi sosial keagamaan yang menjadikan nilai-nilai tradisi kultural sebagai basis pergerakkannya mampu eksis di tengah arus globalisasi dan modernisasi dengan memiliki keanggotaan yang terbesar dan terbanyak di Indonesia.

Begitu juga kelembagaan-kelembagaan yang dikembangkan warga NU hal ini sebagai wujud dari kembali ke khittahnya, menegaskan kembali peranannya yang real bagi pengembangan masyarakat bidang keagamaan, pendidikan dan sosial kepada masyarakat. Pengembangan Masyarakat Madani membutuhkan peran serta masyarakatnya, maka Nahdlatul Ulama sebagai subkultural bangsa ini, dengan sejarah, paham, teologi, nilai, serta tradisi-tradisi ASWAJA menjadi cara pandang, manhaj al fikr yang mampu dikontekstualisasikan dengan kultur masyarakat Indonesia telah menjadi perekat yang menggawangi pembentukan Civil Society

DAFTAR PUSTAKA

Marijan, Kacung, Quo Vadis NU setelah kembali ke Khittah 1926, (Jakarta: Erlangga,

1992), cet. 1

Fatah, Munawir Abdul, Tradisi Orang-orang NU, (Jakarta: Pustaka Pesantren, 2007).

Cet, 3.

Ma’ruf, Moeh Thaha, Pedoman Pemimpin Pergerakkan, (Jakarta: PBNU, 1954),

Sulthan, Hilmy Muhammadiyah, NU: Identitas Islam Indonesia, (Jakarta: Elsaf,

2004), cet.1

Bruinessen, Martin Van, NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, dan Pencarian Wacana

Baru, (Jakarta: LKIS, 2009, cet. VII

Ma’shum, Ali, Kebenaran Argumentasi Ahlussunah Wal Jamaah, (Pekalongan: Udin

Putra, 1983), cet. 1

‘Abbas, Siradjuddin, I’itiqad Ahlussunah Wal Jamaah,(Jakarta: Pustaka Tarbiyah,

1983)

Dhofier, Zamakhsyari, Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kiayi,

(Jakarta: LP3ES, 1982)

Khalimi, Ormas-ormas Islam, Jakarta: GP Press, 2010, cet. 1

Alaena, Badrun, NU, Kritisme dan Pergeseran Makna Aswaja, (Yogyakarta: Tiara

Wacana Yogya, 2000), cet. 1

Effendy, Bachtiar, Nilai-nilai Kaum Santri, dalam M. Dawam Rahardjo (ed),

Pergulatan Dunia Pesantren: Membangun Dari Bawah, Jakarta P3M, 1985

Affandi, Bisri, et.al. Dirasat Islamiyah I Pengantar Ilmu Tauhid dan Pemikiran Islam.

(Surabaya: CV. Anika Bahagia Offet, 1993), cet. 1.

http://www.nu.or.id/NU+dari+Ulama+untuk+Ummat+dan+Negara, pada tanggal 18

Maret 2013

http://perpuspasca.sunan-ampel.ac.id/ diakses pada tanggal 18 Maret 2013.

[1]              Diakses dari http://www.nu.or.id/, NU+dari+Ulama+untuk+Ummat+dan+Negara, pada tanggal 18 Maret 2013

[2]            Kacung Marijan, Quo Vadis NU setelah kembali ke Khittah 1926, (Jakarta: Erlangga, 1992), cet. 1, hal. 2.

[3]              Munawir Abdul Fatah, Tradisi Orang-orang NU, (Jakarta: Pustaka Pesantren, 2007). Cet, 3. Hal.xi

[4]              Moeh Thaha Ma’ruf dalam Pedoman Pemimpin Pergerakkan, (Jakarta: PBNU, 1954), hal. 103

[5]              Hilmy Muhammadiyah dalam NU: Identitas Islam Indonesia, Jakarta: Elsaf, 2004, cet.1, hal.116

[6]              Hilmy Muhammadiyah Sulthan, hal. 119

[7]              Said Aqil Siradj, Aktualisasi Ahlussunah wal Jama’ah, (makalah: 1997) dikutip Hilmy Muhammadiyah Sulthon dalam NU: Identitas Islam Indonesia, hal.120

[8]               Rumusan Khittah NU bagian Muqadimah, doc. Lakpesdam NU

[9]              Kacung Marijan, op. cit., hal, ix

[10]             Martin van Bruinessen, NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, dan Pencarian Wacana Baru, (Jakarta: LKIS, 2009, cet.VII, hal. 14

[11]             Kacung Marijan, op. cit, hal. xi

[12]             Martin Van Bruinessen, hal. 53

[13]             Kacung Marijan, op. cit. 144

[14]      Achmad Shiddiq, Islam, Pancasila dan Ukhuwah Islamiyah, Jakarta: Sumber Barakah, 1985, hal. 15 dalam Kacung Marijan, hal. 151

[15] Martin Van Bruinessen, hal. 41-42

[16]   Kacung Marijan, hal.134

[17]             Munawir Abdul Fatah, Tradisi Orang-orang NU, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2007), cet. 3, hal. xxvii-xxxi

[18]             Ali Ma’shum, Kebenaran Argumentasi Ahlussunah Wal Jamaah, (Pekalongan: Udin Putra, 1983), cet. 1, hal.62

[19]             Said Aqil Siraidj, kata Pengantar dalam Hilmy Muhammad, NU: Identitas Islam Indonesia, hal. ix-xiii

[20]             Martin Van Bruinessen, hal.152

[21]             Lihat Siradjuddin ‘Abbas, I’itiqad Ahlussunah Wal Jamaah,(Jakarta: Pustaka Tarbiyah, 1983), hal, 16

[22]             Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kiayi, (Jakarta: LP3ES, 1982), hal, 153

[23]             Diakses dari http://perpuspasca.sunan-ampel.ac.id/ diakses pada tanggal 18 Maret 2013.

[24]             Dr. Khalimi, MA, Ormas-ormas Islam, Jakarta: GP Press, 2010, cet. 1, hal, 330

[25]             Kacung Marijan, op. cit, xiii

[26]          Chorul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama,(Sala: Jatayu, 1985), hal, 174 dalam KacungMarijan, hal, 32

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 16, 2016 in BERBAGI, CERITA

 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: