RSS

Nasehat Bijak di Telinga si Dungu

15 Apr

Nasehat Bijak di Telinga si Dungu

Pada dahlulu kala, hidup seorang tukang kebun yang memiliki kebun yang sangat sejuk dan nyaman. Kebunnya selalu dipenuhi dengan berbagai macam burung yang indah dan berkicau merdu.

Kala itu, musim semi dan kebun seperti biasa penuh warna dan semerbak harum bunga-bunga. Keindahan itu dibarengi dengan kicauan merdu burung-burung.

Di sisi lain, pak kebun bekerja dengan ditemani kicauan merdu burung-burung. Tiba-tiba dalam hatinya, pak kebun itu ingin menangkap satu di antara burung-burung tersebut. Dia pun melaksanakan niatnya.

Pak kebun itu menyiapkan perangkap dan menebar gandum di bawah perangkapnya. Kemudian dia berdiri jauh sambil tangannya memegang tali yang diikat ke kayu kecil yang menyangga perangkapnya tetap terbuka. Ketika seekor burung berada di bawah perangkapnya, pak kebun itu langsung menarik tali di tangannya dan kayu penyangga itu pun jatuh dan akhirnya perangkap pun tertutup. Pak kebun senang karena berhasil menjebak seekor burung.

Dia pun berlari menghampiri perangkapnya dan meraih burung itu.

Dalam genggaman pak kebun, sang burung berkata; “Wahai pak kebun yang baik hati, lepaskan aku. Aku hanya seekor burung lemah dan kecil yang tidak berdaging untuk mengenyangkanmu. Lihatlah aku!  Yang aku miliki hanya sayap, bulu, dan tulang-tulang kecil. Dagingku yang sedikit tidak akan mengenyangkanmu. Maka lepaskan aku, dan sebagai gantinya aku akan memberikanmu tiga nasehat berharga.”

Pak kebun terkejut mendengar ucapan burung itu dan berkata; “Jadi jika aku membebaskanmu, kau akan memberiku tiga nasehat? Memangnya kau siapa dan seperti apa pula nasehatmu itu?”

Burung malang itu menjawab; “Nasehat pertamaku akan kuberikan ketika aku sedang berada dalam genggamanmu, nasehat kedua akan kuberikan ketika aku sudah berdiri di atas tembok, dan nasehat ketiga akan kuberikan ketika aku telah berdiri di atas pohon.”

Dalam hati pak kebun itu berkata; “Benar apa kata burung ini, dia tidak memiliki daging yang akan mengenyangkanku, maka sebaiknya aku mendengar ucapannya dan membebaskannya.”

Kemudian dia berkata, “Baiklah aku akan membebaskanmu, tapi aku ingin mendengar nasehat pertamamu dulu, dan aku akan menilai apakah nasehatmu itu berharga bagiku.

Burung itu pun berkata; “Nasehat pertamaku adalah agar kau tidak pernah mempercayai sesuatu yang tidak mungkin.”

Pak kebun berpikir sejenak dan ia menilai nasehat itu bagus. Ia pun melepaskan genggamannya. Burung itu terbang dan hinggap di atas tembok.

Pak kebun berkata, “Wahai burung kecil yang indah, sekarang penuhi janjimu dan berikan padaku nasehatmu yang kedua.”

Burung yang merasa sangat senang karena telah dibebaskan itu berkicau sejenak kemudian berkata; “Nasehat keduaku adalah agar kau tidak meratapi masa lalu dan apa saja yang hilang darimu di masa lalu.”

Setelah mengatakan itu, burung tersebut terbang dan hinggap di tangkai pohon. Sementara pak kebun yang senang mendengar nasehat burung itu tidak sabar mendengar nasehat berikutnya dan berkata; “Sekarang cepat kau katakan nasehatmu yang ketiga.”

Burung itu kemudian berkata; “Wahai pak kebun yang bodoh, aku telah menipumu, karena sesungguhnya di dalam perutku ada batu yang sangat berharga dan kau telah kehilangan kesempatan untuk memilikinya.

Mendengar itu, pak kebun menyesal mengapa dia membebaskan burung itu dan mengapa dia harus melepaskan sesuatu yang berharga hanya karena dua nasehat yang sederhana.

Keluhan pak kebun didengar oleh burung itu dan dia pun berkata; “Wahai pak kebun yang bodoh, bagaimana mungkin kau bisa secepat ini melupakan nasehatku agar kau tidak meratapi semua yang telah berlalu dan agar kau tidak mempercayai ucapan yang tidak mungkin? Lalu bagaimana kau mendengar nasehatku dan hanya dalam waktu sekejap saja kau mempercayai ucapan yang tidak mungkin? Jika tidak tuli dan buta, maka kau adalah orang yang dungu. Sebenarnya kau tidak punya otak. Aku yang berbadan kecil seperti ini, bagaimana aku bisa menelan batu permata besar sampai masuk dalam perutku?”

Mendengar ucapan burung itu, pak kebun langsung sadar atas kekeliruannya. Dia tidak memperhatikan dua nasehat sebelumnya. Setelah beberapa saat pak kebun berkata; “Wahai burung kecil yang bijak, sekarang tepati janjimu dan katakan padaku nasehat ketigamu!”

Sang burung tertawa dan berkata, “Kau tidak mengamalkan dua nasehatku, untuk apa kau perlu nasehat ketiga? Apa manfaat nasehatku untukmu? Menasehatimu dan orang-orang sepertimu sama seperti mengikat sesuatu di udara dan sia-sia.”

Setelah mengatakannya, burung itu pun segera terbang pergi. (IRIB Indonesia)

http://indonesian.irib.ir

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 15, 2012 in BERBAGI, CERITA

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: