RSS

Hukuman Bagi Homoseksual Berdasarkan KUHP dan Islam

08 Mei
Hukuman Bagi Homoseksual Berdasarkan KUHP dan Islam

Hukuman Bagi Homoseksual Berdasarkan KUHP dan Islam

Ancaman sanksi bagi pelaku tindak pidana homoseksual, dalam KUHP pasal 292 diancam pidana penjara lima tahun, sedangkan di dalam hukum pidana Islam bagi pelaku tindak pidana homoseksual jenis hukuman yang dijatuhkan adalah hadd dan ta?zir, jika muhsan dirajam sampai mati dan ghairu muhsan dicambuk 100 kali, dan penjatuhan ta’zir diberikan atau ditetapkan oleh pemerintah seperti halnya dengan hukuman bagi pelaku zina.
Adapun mengenai tujuan pemidanaan dalam hukum pidana Indonesia, adalah sebagai berikut: a). pembalasan (revenge), b). penghapusan dosa (exspiation), c). menjerakan (deterrent), d). perlindungan terhadap umum (protection of the public), e). memperbaiki si penjahat (rehabilitation of the criminal). Sedangkan tujuan pemidanaan menurut hukum pidana Islam, adalah: a). menjaga agama (hifdhu-din), b). terjaminnya perlindungan hak hidup (hifdhun-nasf), c). menjaga keturunan (hifdhun-nasl), d). menjaga akal (hifdhul-aql), e). menjaga harta (hifdhu-mal), f). keadilan.

Sesuai dengan tujuan penulisan dan hasil pembahasan, maka dapat disimpulkan ada beberapa persamaan dan perbedaan tujuan hukum. Persamaannya ,adalah : a). pemberian perlindungan terhadap hak asasi manusia, b). membuat pelaku jera, c). mendidik masyarakat, d). pembalasan. Adapun perbedaannya, yaitu: a). perlindungan hukum terhadap hak-hak asasi pihak-pihak yang menjadi korban, dalam KUHP kurang maksimal, sedangkan dalam hukum pidana Islam maksimal, b.) jenis hukuman, dalam KUHP Pasal 292 dengan ancaman pidana 5 tahun penjara, sedangkan dalam hukum pidana Islam, yaitu ghairu muhsan (belum menikah) dipukul 100 kali, dan kalau muhsan (sudah menikah) dirajam sampai mati. Namun saat ini dalam RUU-KUHP 2004 ada penambahan untuk masa hukuman 5 tahun menjadi 7 tahun penjara.

Setidaknya, ada tiga hukuman berat terhadap pelaku homoseksual: (1). Pertama; Dibunuh. (2). Ke-dua; Dibakar. (3). Ke-tiga; Dilempar dengan batu setelah dijatuhkan dari tempat yang tinggi

‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ia (pelaku gay) dinaikkan ke atas bangunan yang paling tinggi di satu kampung, kemudian dilemparkan darinya dengan posisi pundak di bawah, lalu dilempari dengan bebatuan.”

Berikut Keterangan Ulama Ahlussunnah mengenai Homoseks dan gay tersebut, kami sertakan  juga mengenai Fatwa hukum Anal Sex yang dilakukan terhadap istri. Dinukil oleh Ibnul Qayyim bahwa para shahabat Rasulullah bersepakat agar pelaku gay dibunuh, tidak ada dua orang pun dari mereka yang berselisih tentangnya.Hanya saja mereka berselisih tentang cara membunuhnya.

Sebagian Hanabilah menukil ijma’ (kesepakatan) para shahabat bahwa hukuman bagi pelaku gay dibunuh. Mereka berdalil dengan hadits:

“مَنْ وَجَدْتُمُوْهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمَ لُوْطٍ فَاقْتُلُوْا الْفَاعِلَ وَ الْمَفْعُوْلَ بِهِ”

“Siapa saja di antara kalian mendapati seseorang yang melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah pelakunya beserta pasangannya.[1]

Hadits ini diriwayatkan oleh Ahlus Sunan dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan lainnya. Imam Ahmad berpendapat dengannya dan sanad hadits ini sesuai dengan syarat dua Syaikh (Al-Bukhari dan Muslim).

Mereka juga berdalil dengan apa yang diriwayatkan dari Ali bahwasanya beliau merajam orang yang melakukan perbuatan ini. Al-Imam Asy-Syafi’i berkata,

” وَبِهَذَا نَأْخُذُ بِرَجْمِ مَنْ يَعْمَلُ هَذَا الْعَمَلَ مُحْصَنًا كَانَ أَوْ غَيْرَ مُحْصَنٍ “

“Maka dengan (dalil) ini, kami menghukum orang yang melakukan perbuatan gay dengan rajam, baik ia seorang yang sudah menikah maupun belum.“

Begitu juga dengan riwayat dari Khalid bin Al-Walid bahwa beliau mendapati di sebagian daerah Arab, seorang lelaki yang disetubuhi sebagaimana disetubuhinya seorang wanita. Lalu, beliau menulis (surat) kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq tentangnya, kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq meminta nasihat kepada para shahabat. Maka yang paling keras perkataannya dari mereka ialah Ali bin Abi Thalib yang berkata,

” مَا فَعَلَ هَذَا إِلاَّ أُمَّةٌ وَاحِدَةٌ مِنَ الأُمَمِ، وَقَدْ عَلِمْتُمْ مَا فَعَلَ اللهُ بِهَا، أَرَى أَنْ يُحْرَقَ بِالنَّارِ “

“Tidaklah ada satu umat pun dari umat-umat (terdahulu) yang melakukan perbuataan ini, kecuali hanya satu umat (yaitu kaum Luth) dan sungguh kalian telah mengetahui apa yang Allah Subhaanahu wa ta’ala perbuat atas mereka, aku berpendapat agar ia dibakar dengan api.”

Lalu, Abu Bakar menulis kepada Khalid, kemudian Khalid pun membakar lelaki itu. Abdullah bin Abbas berkata,

” يُنْظَرُ إِلَى أَعْلَى بِنَاءٍ فِي الْقَرْيَةِ، فَيُرْمَى اللُّوْطِيُّ مِنْهُ مُنَكِّبًا، ثُمَّ يُتَّبَعُ بِالْحِجَارَةِ “

“Ia (pelaku gay) dinaikkan ke atas bangunan yang paling tinggi di satu kampung, kemudian dilemparkan darinya dengan posisi pundak di bawah, lalu dilempari dengan bebatuan.”

Abdullah bin Abbas mengambil hukuman seperti ini dari hukuman yang AllahSubhaanahu wa ta’ala timpakan kepada kaum Luth dan Abdullah bin Abbaslah yang meriwayatkan sabda Nabi ` ,

“مَنْ وَجَدْتُمُوْهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمَ لُوْطٍ فَاقْتُلُوْا الْفَاعِلَ وَ الْمَفْعُوْلَ بِهِ”

“Siapa saja di antara kalian mendapati seseorang yang melakukan perbuatan kaum Luth maka bunuhlah pelakunya beserta pasangannya.[3]

Kesimpulannya adalah ada yang berpendapat sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib, dan ada juga yang berpendapat ditimpakan (diruntuhkan) tembok kepadanya. Adapun Al-Allamah Asy-Syaukani menguatkan pendapat agar pelaku Liwath dibunuh dan beliau melemahkan pendapat-pendapat selain itu. Sesungguhnya mereka menyebutkan masing-masing cara pembunuhan bagi pelaku gay karena Allah telah mengazab kaum Luth dengan semua itu.

”Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan) dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, yang diberi tanda oleh Tuhanmu. Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.(QS. Hud [11]: 82-83)

Yang dimaksud dengan kata مَنْضُوْدٍ (bertubi-tubi) ialah saling mengikuti, yang satu dengan yang lain saling mengikuti bagaikan hujan. sedangkan kata مُسَوَّمَةً (diberi tanda) maksudnya ialah memiliki ciri yang tidak menyerupai batu-batu di dunia atau ditandai dengan nama orang yang berhak dilempar dengannya. Hukuman itu sesuai dengan perbuatan dosa yang keji dan buruk, silahkan pelaku gay memilih dari hukuman yang bermacam-macam tersebut sekehendaknya. Kemudian setelah kematiannya, ia tidak tahu apa yang akan Allah Subhaanahu wa ta’ala perbuat terhadapnya. Sungguh telah datang (kabar) bahwa:

“أَرْبَعَةٌ يُصْبِحُونَ فِي غَضِبِ اللَّهِ ويُمْسُونَ فِي سَخِطَ اللَّهِ”، قَالَ أَبُوْ هُرَيْرَةَ : “وَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟” قَالَ:”الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ، وَالَّذِي يَأْتِي الْبَهِيمَةَ، وَالَّذِي يَأْتِي الرِّجَالَ”

“Ada empat golongan yang di pagi hari mereka berada dalam kemarahan AllahSubhaanahu wa ta’ala dan di sore hari mereka berada dalam kemurkaan-Nya.” Abu Hurairah berkata: “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?” Beliau ` menjawab: “Para lelaki yang menyerupai wanita, para wanita yang menyerupai lelaki, orang yang menyetubuhi binatang, dan lelaki yang menyetubuhi lelaki.”

Ijma’ Sebagai Konsep Hukum

Kalau kita telaah referensi-referensi yang menjadi sumber dasar penetapan hukum Islam, maka di antara instrument hukum tersebut adalah Ijma’. Posisi kekuatannya sebagai sumber hukum menempati urutan ketiga setelah Al-Quran dan As-Sunah. Ijma’ lahir dan muncul setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Ijma’ merupakan kesepakatan para mujtahid (ahli ijtihad) setelah wafatnya Rasulullah terhadap suatu kasus hukum dalam suatu masa.

Jadi yang menentukan suatu hukum sudah menjadi Ijma’ atau belum adalah para mujtahid (ahli ijtihad) yang berkompeten dalam bidangnya. Bukan orang-orang sembarangan. Mereka adalah orang-orang memiliki syarat-syarat baku yang mendukungnya untuk memahami nash-nash (Al-Quran dan As-Sunah) dan mengaitkannnya dengan realita, seperti menguasai ilmu-ilmu seperti bahasa Arab, maqasidus syari’ah, fikih dan ushul fikih, ilmu tafsir dan lain sebagainya disebutkan dalam ushul fikih.

Sekalipun pintu ijtihad selalu terbuka, tetapi untuk urusan hukum, tidak semua orang bisa mengklaim dirinya mujtahid atau menganggap siapa saja boleh berijtihad. Apalagi merubah hukum yang sudah pasti kebenarannya. Haramnya homoseksual dan lesbian ini, sudah menjadi Ijma’ (ketetapan ) ulama Islam. Artinya, tak ada diantara mereka yang berselisih. Jadi, tidak ada seorang ulamapun yang berpendapat tentang kehalala nya. Dan itu sudah menjadi ketetapan hukum sejak masa Nabi, sahabat sampai hari kemudian. Jadi tidak bisa diotak- atik –apalagi– dengan justifikasi rasional.

Islam meyakini bahwa segala perintah dan larangan Allah –baik berupa larangan atau perintah—tak lain bertujuan untuk menciptalan kemaslahatan hidup manusia di dunia dan akhirat. Hatta, termasuk tujuan pelarangan praktik homoseksual dan lesbian yang dimaksudkan untuk memanusiakan manusia dan menghormati hak-hak mereka.

Sangat terlalu lengkap –kalau tidak boleh disebut kaya– hanya untuk menelusuri haram dan tidaknya soal homoseksual dan lesbian dalam Islam. Masalahnya agak aneh, jika doktor UIN seperti Musdah Mulia melewatkan begitu saja. Jikapun beliau tidak paham –mungkin karena keterbatasannya dalam ilmu fikih– lebih tepat sekiranya agak berhati-hati. Masalahnya, mengapa begitu memaksakan diri? lantas ada apa dibalik itu? Wallahu a’lam


KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa hokum homoseksual adalah perbuatan keji atau disederhanakan yaitu hukumnya haram. Sedangkan hukuman bagi para pelaku homoseksual baik laki-laki maupun perempuan secara garis besar yaitu ada tiga macam (1). Pertama; Dibunuh. (2). Ke-dua; Dibakar. (3). Ke-tiga; Dilempar dengan batu setelah dijatuhkan dari tempat yang tinggi

Sedangkan hukuman bagi para pelaku homoseksual sesuai dengan KUHP yaitu pasal KUHP pasal 292 diancam pidana penjara lima tahun, sedangkan di dalam hukum pidana Islam bagi pelaku tindak pidana homoseksual jenis hukuman yang dijatuhkan adalah hadd dan ta?zir, jika muhsan dirajam sampai mati dan ghairu muhsan dicambuk 100 kali, dan penjatuhan ta?zir diberikan atau ditetapkan oleh pemerintah seperti halnya dengan hukuman bagi pelaku zina. Adapun mengenai tujuan pemidanaan dalam hukum pidana Indonesia, adalah sebagai berikut: a). pembalasan (revenge), b). penghapusan dosa (exspiation), c). menjerakan (deterrent), d). perlindungan terhadap umum (protection of the public), e). memperbaiki si penjahat (rehabilitation of the criminal). Sedangkan tujuan pemidanaan menurut hukum pidana Islam, adalah: a). menjaga agama (hifdhu-din), b). terjaminnya perlindungan hak hidup (hifdhun-nasf), c). menjaga keturunan (hifdhun-nasl), d). menjaga akal (hifdhul-aql), e). menjaga harta (hifdhu-mal), f). keadilan.

DAFTAR PUSTAKA

Al- jaziri, Abdurrahman, Kitab al-Fiqh ala Mazaahibul A-Arbaa’ah, (Beirut, Lebanon: Ahya al-Taardisu al-Araabi, tt.).

Hamka, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta: Panjimas, 1979)

Imam Abi al-Husyaini Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisyaburi, Shahih Muslim, Beirut. Darul Fikr, 1988), hal. 109.

Khalawi, Muhammad zakaria Al-Kindhi, Muwata’ Malik (al-Nasyar,tt.).

Ridha, Rasyid, Tafsir al-Manar, (Kairo: Matba’ah Haja’ri, 1959).

Mahmud saltut, Al-Islam Aqidatun wa Syari’atun, (Mesir; Daru’ I Qalam, 1968),


[1] . Imam Abi al-Husyaini Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisyaburi, Shahih Muslim, Beirut. Darul Fikr, 1988), hal. 109.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 8, 2011 in BERBAGI, HUKUM, SOSIAL

 

Tag: , ,

2 responses to “Hukuman Bagi Homoseksual Berdasarkan KUHP dan Islam

  1. rahmatillah

    Februari 3, 2012 at 10:40 am

    homo? jadul x. kalo ada pun kita basmi

     
    • ekofaisalyusuf

      Februari 16, 2012 at 2:08 am

      aheheheeh,….. jadul? iya karena mungkin kamu hanya baca crita-cerita dari buku-buku yg jadul juga, terus ga pernah mau nyari tau bahawa dalam klenyataan sekarang kaum minoritas itu juga punya hak untuk hidup, n dilindungi, tulisan saya bukan berarti mau menjelek-jelekkan kaum minoritas tersebut, tp, agar kita lebih tau dan mau berfikir bagaimana menposisikan mereka di luar ideologi agama, di negara-negara lain udah banyak kaum minoritas malah di akui secara formal oleh negara, kira-kira seperti itu, makasih🙂

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: