RSS

Mekanisasi Terganjal Masalah Sosial

16 Apr

Mekanisasi Terganjal Masalah Sosial

Mekanisasi pertanian mulai dari pengolahan lahan, penanaman, hingga pengolahan hasil pertanian belum bisa di jalankan secara optimal karena ada hambatan social. Padahal mekanisasi dapat menekan biaya produksi petani hingga 25 persen.

Menurut Kepala Balai esar Pengembangan Mekanisasi Pertanian pada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementrian Pertanian Astu Unadi Jumat (1/4) di Jakarta, hingga saat ini mekanisasi pertanian baru bisa berjalan setengahnya, terutama mekanisasi dalam hal pengolahan lahan dan pengolahan hasil pertanian.

Pemrosesan padi dari gabah menjadi beras juga sudah menggunakan mesin, tidak lagi di tumbuk, karena bila di tumbuk tingkat kehilangan hasilnya tinggi, kualitas beras jelek, dan biaya tenaga kerja besar serta lamban.

Sulitnya mekanisasi masuk karena terbentur masalah social. Astu mencontohkan, bila menggunakan tenaga manusia untuk penanaman dan panen butuh tenaga kerja 30 orang perhektar per hari dengan upah Rp 40.000 per hari.

Bila menggunakan mesin, selain lebih cepat biaya tanam dan panen bisa ditekan lebih dari separuhnya. Akan tetapi tenaga kerja akan berkurang banyak. Investasi mesin pertanian juga sekarang tidak begitu mahal karena sebagian besar sekarang sudah diproduksi di dalam negeri.

Kompas, sabtu 2 april 2011

Pendapat saya,

Dari beberapa uraian di atas saya berpendapat bahwa sebenarnya proses mekanisasi bukan terganjal oleh masalah social. Namun, apabila proses tersebut seperti apa yang dikatan oleh Astu mampu meningkatkan hasil produksi, mempercepat waktu pengolahan lahan, dan menekan biaya produksi petani. Akan tetapi akan banyak sekali membawa dampak yang kurang baik, dikarenakan akan banyak sekali pengangguran jika semua diharuskan menggunakan alat-alat modern seperti sekarang ini.

Alat-alat pertanian tradisional secara tekhnis pemakaian dan lamanya waktu yang di butuhkan untuk memproduksi memang akan menjadi persoalan baru di bidang peningkatan hasil produksi pertanian secara kuantitas.

Sebenarnya apabila pemerintah mencanangkan untuk menggunakan proses mekanisasi dalam dunia pertanian dan yang lainnya. Seharusnya pemerintah mampu menyediakan lahan-lahan pekerjaan bagi para pengangguran karena dampak dari proses mekanisasi adalah akan banyak timbulnya pengangguran.

Kalau dilihat dari segi kebutuhan sehari-hari masyarakat secara real proses mekanisasi memang belum bisa di berlakukan secara penuh, dikarenakan hasil panen dari petani penjualannya masih sangat kecil harganya, nah inilah penyebab kedua mengapa masyarakat “petani” masih enggan menggunakan proses tersebut,

Namun ada juga para petani yang mempunyai prinsip bahwa mereka tidak akan mengurangi pengangguran, mengurangi pengangguran di negeri ini artinya sama saja akan menambah tingkat kemiskinan yang sangat tinggi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 16, 2011 in BERBAGI, SOSIAL

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: