RSS

TTG TUHAN

14 Apr

 

TTG TUHAN

“Apakah kebahagian itu.” Ucap Galen lagi. Memecah kesunyian yang dua puluh detik lalu meraja. Lalu pendeta itu melangkah mendekat kearahnya.

“Keragu-raguanmu akan membawamu kepada petaka batin yang paling hancur, dan kau akan memandangi reruntuhan dengan penyesalan yang sungguh. Reruntuhan dari kerajaanmu sendiri. Yaitu ketika kau merasa enggan untuk selalu mengorbankan dirimu sendiri di hadapan sesuatu yang lebih besar. Bahkan bila yang lebih besar itu adalah bahasa batinmu sendiri yang meng-Ada sebab kau bertemu momen yang menentukan. Cobalah untuk ber-Ada dalam keheningan. Dan batinmu akan menyatakan untukmu segala yang tidak terlihat. Perempuan, kisah mata, kebisuan dan keheningan; bahkan kehilangan dan nostalgia.”

“Aku tidak mengerti kata-katamu. Kata-katamu begiku, gelap. Apakah itu yang lebih besar dari diriku ini, Bapa?”

“Tuhan yang penuh kasih? Ontologi dari segala yang ada dan ber-Ada. Yang mewaktu dan yang abadi.”

“Tuhankah? sejarahkah, atau manusia juga sepertimu. Atau Tuhan berada di tengah-tengah antara sejarah dan manusia…Tuhan yang mana Bapa?” mereka saling memagut dalam diam.”………suaramu terdengar begitu persuasif, tapi kau tidak dapat menutupi ketersinggungan perasaanmu yang begitu tidak terkendali. Kenapa kau menutupi kebingungan dan rasa skeptismu sendiri?” Galen mendekat, lebih dekat kepada wajah pendeta itu; seperti memintanya untuk menatap matanya. Tapi bapa pendeta itu seperti tanpa gerak, hanya desahnya saja yang menempel di tembok-tembok gereja.

“Tuhan yang tersalib dengan sedih dan memelas? Atau Tuhan yang selalu meminta jatah makanan itu. Atau Tuhan yang di kolong jembatan itu. Dari sudut yang manakah Tuhan itu bisa dilihat dengan benar?” sergah Galen lagi.

Cahaya senja yang baru sekali ini hadir sejak awal musim hujan Oktober menerobos membentuk bentangan matrik berwarana pelangi keemasan. Cahaya itu memisahkan jarak keduanya.

Galen tiba-tiba tersungkur kelantai. Tubuhnya terasa lemas dan seperti mau mati. Bapa Pendeta meraihnya dengan penuh kasih dan sabar sungguh. Galen menolak dengan tangannya. “Ini hanya sebab aku lapar?” ungkap Galen seraya mau bertahan menolak pertolongan pendeta. Pendeta tua itu mengegrenyitkan dahinya.

“Mendengar nama Tuhan saja setiap pikiran akan merenung, pikiran akan bertanya dan pastilah berusaha untuk meragukannya. Bagaimanakah bila pikiran itu hanya pikiran orang awam.? Aku tidak lebih dalam mengenali gereja atau apapun selain bahwa mereka menjadikan Tuhan dan agama menjadi misteri-misteri. Sabda-sabda membingungkan yang tidak memenuhi harapan orang awam macam diriku. Karenanya Bapa, aku tidak akan mengikutimu kecuali bila Tuhan datang dalam hatiku?”

“Ankku, aku tidak pernah sebelumnya bertemu dengan orang yang hatinya sekeras dirimu?” keluah bapa pendeta semabari menuntun tubuhnya ke salah satu ruangan yang terletak disisi pintu utama Gereja. Kini wajahnya di siniari pelangi ke unguan dari senja sore yang di kirimkan oleh laut barat.

******

 

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Alissa dan tunangannya.

 

Karim tunangannya semakin hari semakin heran dan merasakan segala keanehan yang terus membayang pada wajah Alissa.

Ia mengerti dan menyadari sesuatu yang lain sedang mencuri kekasih hatinya itu sampai menjauhkan darinya begitu jauhnya. Tapi sekarang ini ia tidak dapat mengertikan apapun kecuali bahwa ia berharap ia akan memiliki Alissa untuk menemani hidupnya sampai ahir. Ia pun sadar dengan ketulusan yang ada dalam dirinya untuk Alissa, tapi ia juga mengerti, dan itulah yang ia khawatirkan, bahwa setiap orang tidak bisa dipaksa untuk berbahagia dengan cara orang lain. Dan pada dirinya Alissa pastilah dapat mengenali seorang yang jadi kebahagiaanya?

Mula-mula ia menyimak bagaimana Alissa lebih sering meninggalkan rumah dan tak selalu ada bahkan saat ia sebelumnya telah membikin janji untuk suatu makan malam di malam yang berkabut di dalam kota; dan saat Alissa kembali, wajahnya ria dan menyapanya dengan ketepatan emosi yang tak dapat diartikan oleh dirinya sendiri seolah-olah ia tahu wajah bahagia itu tidak disebabkan oleh dirinya. Ia melihat wajah ganda Alissa, wajah ekspresif namun aneh. Seolah-olah ia baru saja menenggak sebotol alkohol dan uap kemabukannya mengembang hingga ubun-ubunnya, melambungkan kesadarannya hingga sedemikian ringan.

Dan memang, suatu ketika ia mendapati Alissa tangah duduk sendirian di sebuah kafe daerah utan kayu. Pada wajahnya ia melihat wajah Alissa seperti tengah menunggu seseorang, tetapi dirinya sadar hari itu ia tidak membuat janji dengan Alissa. Dari air mukanya ia juga melihat sebuah gamabaran bahwa Alissa tengah duduk menunggu tanpa sebuah janji dengan siapapun.

Ia lantas terdorong oleh rasa sayang dan penasarannya, sengaja memerhatikan Alissa dari sebuah kafe lain dengan jendela yang dapat mengatarkan pandangannya ketempat dimana Alissa duduk, dan samapai waktu kafee itu ahirnya tutup, tidak ada seorang pun yang dilihatnya datang untuk menemui Alissa.

Dugaannya pun benar, Alissa sedang terjebak dalam sebuah kerawanan mental yang ia sendiri belum tahu disebabkan apa? Ia bertanya-tanya dalam dirinya sendiri adakah sesorang yang lain dalam diri Alissa? Ataukah ia hanya sedang merindukan ayahnya? Bukankah di kafee babah Ahong ayahnya dulu juga begitu gemar duduk dan memandangi dunia dari balik jendela? Ia tahu semua cerita itu….

Edited…….

Hari yang lain kutemukan ibu berada di depan gereja Sion dan memandangi Gereja itu dengan tatapan yang penuh misteri. Aku mengira ia sedang memandangi kenangan masa mudanya; mungkin dulu ia memiliki keluarga yang bahagia, saat masih ada waktu untuk pergi kegereja dengan ayah dan saat itu pastilah aku masih kanak-kanak, lugu dan tak mengerti soal hidup yang saat ini kutahu ternyata rumit. Ah, ibu pun kutahu hanya memandangai Gereja itu saja, sejak lima belas tahun ini aku tahu ia tidak pernah lagi beribadah di Gereja seperti nostalgia masa kanak-kanak bila dapat aku ingat.

Pada waktu yang lain lagi aku dapati ibu mengajakku pergi kepesisir utara jakarta, di tepi pantai Tanjung priuk. Tapi hampir setengah hari aku duduk menemaninya, ibu tak bicara apa-apa, ia hanya memerhatikan kapal-kapal besar datang dari arah selatan. Kapal-kapal itu nampak oleng dan seperti berisik. Tanpa aku duga-duga ibu tiba-tiba menatapku persis kearah bola mataku, dan ia bicara dengan suara yang tidak tertata, terbata-bata dan lirih saja,

“Bagaimana jika seluruh kapal itu berisi orang-orang gila yang di buang dari sebuah negeri dan terdampar di kota ini. Dalam kegaduhan di kota ini dimana orang tidak saling mempercayai dan tidak saling memahami, tidakkah kedatangan orang-orang gila itu akan disambut seperti sebuah keadaan yang ditunggu untuk memecahkan semua persoalan? Dan semua orang dikota ini akan hilang akal sehatnya sekalipun kelihatannya kehidupan berjalan wajar-wajar saja dan apa adanya. Semua orang di kota ini mungkin tengah berbuat untuk suatu sejarah yang dibangun sama dengan sejarah kegilaan. Jika demikian manakah lebih kau pecayai, akal sehat atau hati nurani?” ibu berkata.

Sementara aku hanya tercengang saja mendengarkannya bicara dengan gairah yang luar biasa dan datangnya seperti demam.

“Pada ahirnya banyak soal yang tidak dapat dipahami oleh rasio, begitupun kegilaan….” Ungkap ibu lagi, ia tersenyum kepadaku entah apa maksudnya, kemudian berdiri dan memperagakan gerakan yoga dengan lembut, membiyarkan dirinya menjadi ringan tersapu angina sore yang terasa lembut.

[]

Perubahan yang tergesa-gesa itu tak dapat kutolak sebagai kenyataan yang tengah ada dan masih berlangsung. Sebenarnya aku mengenal ibu dalam keadaan semacam ini tidaklah sekali-sekali saja, ibu selama ini pasif, kering dan selalu dalam kemurungan yang melelahkan. Tapi sering kemurungan itu tiba-tiba mandek, semangat yang menggebu-gebu hadir, sebuah emosi yang meladak-ledak dengan intensitas yang tidak wajar, ketersinggungan dan rupa wajah yang suka-ria; tentu hal semacam itu mudah untuk kuterima, sebagai pengarang ibu sering tiba-tiba ria, sering tiba-tiba duka, sering tiba-tiba; seperti warna-warni, tapi perebuhan kali ini sungguh di luar kewajaran yang sering kutemui.

Sesaat hal itu membuatku senang, berharap bahwa ibu berhasil melupakan kegetiran masalalunya, melepasnya dan merasakan hidup seperti entang. Tapi kemudian karena kemurungan dan keceriaan yang berlibihan dan tidak jelas sebabnya aku malah melihat ia seperti pemabuk wanita di kafe-kafe; penuh kesangsian; ketidak percayaan; kelabilan …dan semua itu menyata dalam seringai yang aneh.

Ibu gila? Tapi ia seorang perempuan yang baik dan religius, bahkan keras hatinya adalah sekaligus kekuatan eksistensinya sebagai ibu dan sebagai perempuan; yang dihianati dan terasingkan, yang kalah! Ia pun pernah berkata dengan ironis padaku “Hanya aku yang tahu bagaimana caranya bertahan dalam keadaan ini, tapi sebenarnya aku lelah hidup tanpa seorang yang dapat menuntunku, aku tidak punya alasan dan ahirnya hidup kujalani separti dalam ilusi saja…….”

“Hidup yang tanpa alasan, sebuah ilusi…..” katakau dalam hati sendiri mengamini.

Terahir kali ini kudapati ibu suatu malam mematikan lampu kamarnya dan tidur dengan begitu lelapnya. Semalaman ia dalam kegelapan dan entah apa yang di inginkannya?

“Hanya dengan melawannya kita dapat mengahiri ketakutan yang sesunggunya tidak pernah nyata itu?” pernah ibu bilang begitu.

Kukira benar Sorent Kiergert itu, kecemesan akan selalu berkorespondensi dengan ketiadaan? Tetapi komplusifitas semacam itu pastilah sangat melelahkan dan membuat putus asa. Tetapi semua orang sejak bayi sudah mengalami komplusifitas emosi untuk mengatasi perasaanya yang sering kesepian. Yah, hidup membutuhkan secercah cahaya sebagai penunjuk arah, butuh sebuah alasan.

 

“(walu ahirnya bukan itu yang dicarinya) ketika tanpa di sengaja Nyonya Marie menemukan surat yang dikirmakan nyonya Ellisa dua tahun sbelumnya, namun saat itu ia mengabaikannya dan kemudian …..”

 

inilah kemudian kuketahui mengapa ibu berubah dan memutuskan untuk kembali menulis.

Saat itu adalah rabu di bulan Oktober yang dingin, melihat perubahan yang terjadi pada diri ibu, rasanya hari-hari seperti dipenuhi mimpi buruk. Aku berharap akan datang sesuatu yang dapat mengahiri ketidakmengertianku ini, tapi aku pun tidak tahu mesti berbuat apa.

Pagi di hari itu nyonya marie memintaku mengantaranya ke Gereja Sion di jalan Jayakarta. Setelah misa minggu yang hangat itu selesai, nyonya marie tak segera kembali. Ia menyusul seorang perempuan seumurannya yang kemudian kuketahui bernama Nyonya Magdalen, dia adalah suster dan penjaga perpustakaan gereja. Sehari-harinya tinggal di temani buku-buku dalam ruang perpustakaan yang berada di belakang runagna gereja utama ini. Mengajarkan kebijaksanaan dan menjadi guru bagi anak-anak yang tinggal di panti yang di kelola Gereja. Dalam ruangan perpustakaan bersamaku nyonya marie memperhatikan se isi ruangan yang tak seberapa besar itu. Tembok-tembok tebal dan kokoh. Bangku dan rak-buku yang di buat dari kayu dolken di hiasi lukisan-lukisan santo; namun tentu saja yang paling menarik perhatianku adalah lukisan dublikat Leonardo davinci, Monalisa. Bentuk tubuh dan wajah melankolinya sungguh serupa dengan ibu. Wajah penderitaan yang menggaris seperti begitu telanjang walau tak kupegangi dan aku tak dapat menolak kebenaran apapun yang tiba-tiba dihadirkan lukisan yang mencermin dalam wajah ibu. Kuperhatikan dalam suasana perbandingan wajah ibu dan lukisan monalisa; kutahu dari tatapan ibu, ia sedang menyelidiki sesuatu, seperti seorang pakar kriminal yang mencari tanda-tanda. Bekas tertinggal yang dapat menggulung waktu dan mentakan banyak hal lebih apa adanya, sekalipun spekulatif……apa yang sungguh-sungguh dapat benar dalam ketiaadaan dan masa lalu?

Ketika nyonya magdalaen kelauar dari ruangannya ia menyapa kami dengan ramah, namun kemudian kusadari keduanya saling bertatapan dengan tatapan mata yang kurasakan tidak sungguh-sungguh nyaman.

“Apa kabarmu, Nyonya….” Suster Magdalaen menyapa.

“Aku sungguh-sungguh baik dalam lindungan kasih……..…”

“Ah, cerita iman subjektif, itu sangat lampau, namun semangat pemberontaknnya sungguh merajalela dalam pikiran orang-orang yang tak punya banyak waktu untuk belajar kitab suci sepertimu…aku selalu membaca novel-novel anda, sungguh menakjubkan dan menarik hati, rupanya anda terlalu melibatkan perasaan anda dan begitu berhasarat agar semua orang tahu penderitaan yang anda alami, tapi sikap hidup anda sungguh kebalikannya. Anda solah sangat kuat dan tangguh, tapi menurutku anda hanya orang-orang yang lemah dan sangsi….?”

Ucap suter tua berambut perak itu dengan suara pelan, namun sepertinya melukai hati ibu, dan juga hatiku. Aku yakin, apalagi ibu memiliki ketepatan emosi yang apik untuk begitu saja menghargai diri sendiri sama seperti ia merasa puas ketika merasa telah mematuhi hukum.

“Sungguh hal itu hanya bagian dari hidupku. Sejauh itu, aku mnyerehakan diriku pada yang tak terbatas. Aku memang tak begitu perduli dengan Tuhanmu, kukira Tuhan itu ada dan hanya satu saja….”

“Apa kau datang untuk mengadu kepada yang kasih?”

“Nyonya, aku ingin menanyakan siapakah gadis kecil dengan gaun pengantin dan pita berwarna ceria dalam foto itu?”

Sejenak suster magdalen menjadi gugup dan air mukanya berbuh menjadi murung….tetapi kemudian kembali tegang seperti memerah mau marah.

“Dia kasih Gereja ini, walau bukan imelda Lambertini, tapi ia sungguh-sunggh ingin menyambut kasih dalam hatinya?”

“Bisakah Nyonya tak menghadirkan misteri-misteri di tengah-tengah kita?”

“Misteri adalah Gereja dan sampi kapanpun Tuhan adalah keagungan misteri-misteri. Hanya perempuan-perempuan bid’ah sepertimu yang meginginkan Tuhan secara empirik dan kau berharap dapat melakukan intrepretasi sekhendak hasrat akalmu…”

“Aku tak ingin berdebat. Sungguh aku ingin menyambut Tuhan dalam hatiku seandanya hati yang kumiliki ini pantas. Namun kurasa tidak dan biyarkan aku yang datang padanya dengan keyakinan yang sungguh…”

“Gadis kecil itu adlah Chelvie, dari mana kau mengenalnya dan mengapa kau mennyaknnya padaku, apakah kau memiliki hubungan dengannya? Dan kuharap tidak!”

“Nyonya apakah ia masih hidup?”

“Itu tidaklah penting untukmu” jawab suster Magdalen…ia nampak berusaha keras untuk menyembunyikan sesuatu tentang gadis kecil dalam foto yang di hiasi pigura mewah dan mengsankan klasik itu…..

“Katakan padaku apakah Nyonya mengenal Galen….?”

……………………………………..

1

Nyonya marie dianggap bid’ah oleh gereja. Aku sendiri tidak tahu mengapa Gereja, setidaknya Suster Magdalen; padahal sepengetahuanku sebelumnya ibu sungguh perempuan yang taat dan religius. Sebagai seorang Katolik Benediktus. Itu saat hidupnya di cemburui banyak perempuan lain; ketika segala kebutuhannya sebagai perempuan terpenuhi, dan ia merasa puas.

Tapi bila keadaan hidupnya berubah dalam keterpurukan dan penderitaan batin yang berlebihan, di tekan-tekan oleh bakat kreatifnya sebagai pengarang; nyonya Marie melakukan pemberontakan batin dan intelektual,. Dia seperti terus saja berkhotbah bahwa penebusan dosa yang di ajarkan gereja adalah kekonyolan belaka. Tanpa usaha-usaha manusia, dosa adalah akan tetap berdiri seperti gunung-gunung kokoh. Baginya dosa adalah tanggung jawab masing-masing manusia, dalam sadarnya atau tidak dalam sadarnya. Dalam kebebasan eksistensialnya atau dlam tindakan otonomnya, ataukah sebuah intrepretasi yang lebih bebas atas hal itu

Baginya manusia adalah yang menanggung dosanya sendiri-sendiri; dan itulah eksistensi…..yang bebas ataukah yang terkekang; dosa memiliki eksistensinya snediri-sendiri dan manusia tidak akan dapat melepasakan diri dari kenyataan itu kecuali dengan mengakui keberadaanya. Dan menanggungnya sendiri-sendiri, menyelesaikan urusannya dengan yang tidak terbatas; dengan cara diam-diam ataukah bertelanjang…..

“ibu yang tahu bagaimana caranya bertahan dalam keadaan semacam ini dimana banyak perempuan mati dan menjadi gila di tekan bakatnya sendiri;’betapapun perempuan pada awalnya, jika bakatnya tidak dapat di gali karena keadaan sosialnya, lingkungannya, maka bakat ini akan lahir-mati’”

Maka sejak itulah ibu menjadi “Atheis” terhadap gereja. Gereja dianggapnya tidak lebih sebagai sebuah musium besar yang dingin dan menyihir; ia menjalankan imannya sendiri kepada Tuhan tanpa perantaraan Gereja dengan jalan subjektif.

 

“Ibu berharap akan ada yang dapat mengubah keadaan ibu dan menolongnya dengan doa-doa dan misa-misa di gereja, tetapi Gereja tua itu tetap berdiri bagai kapal layar tinggi yang melayari abad-abad, tinggi di atas bukit; hanya terlihat indah jika dari jauh, selebihnya dingin dan membuat cemas; sementara itu jauh dari gereja dunia seperti mandek dan ajeg; pelukis-pelukis hanya bisa menghiasi jendela-jendelanya dengan gambar-gambatr jorok yang menelenjangi perempuan, sementara pelukis yang perempuan dianggap konyol dan iseng belaka; menggambar bunga, senja mentari pagi dan kupu-kupu, apa perdulinya dengan Rembulan? Dan di tempat yang berbeda, tukang besi sibuk untuk berabad-abad lamanya dan seperti tidak berubah setaip kalinya hanya untuk menempa besi dengan peralatannya__dan tidak ada yang puas, apalagi merasa tinggal dalam kelmbutan mistik seni.”

 

Apalagi ketika suatu hari seorang pendeta yang masih muda umur dan jiwanya—begitu ibu menyebutnya—mencibirnya dengan perasaan ngeri;”perempuan terlalu lemah untuk menemukan iman sendiri dan apalagi menanggung Tuhan….” Sejak kata-kata itu berdengung di telinganya, ibu tidak lagi mau perduli dengan gereja dan mengagapnya hanya sbegai pabrik-pabrik misteri yang terus memproduksi asa-asa misterius yang mencemaskan dan justru hanya membuat setiap aorang meninggalakannya. Terlebih ibu tidak pernah suka dengan juru khotbah yang selalu laki-laki. Maka sempurnalah keinginannya untuk meninggalkan Gereja.

……….namun sesungguhnya ibu sangat taat dan memiliki harapan sebesar-besarnya kepaa Tuhan. Seperti kanak-kanak sedang kasamaran yang diam-diam bersembunyi di balik loteng untuk berdoa kepada Tuhan dan mengharapa akan hadirnya cinta dari sang pengaren.

TENTANG NOVELNYA?

Setiap kali membaca Novelnya, maka di dapatilah seolah-olah ia perempuan yang kuat. Matanya suci dari air mata seperti Jane Austen. Namun itu hanya kesan dan yang sesungguhnya ibu begitu rapuh dan inferior?

Ia mengutuki laki-laki, membencinya dengan alasan-alasan yang seolah-olah logis”……pernah kudengar seorang lak-laki dengan latahnya menulis Inferioritas mental dan moran dan fisik perempuan…tapi dan kurasakan ia menulis seperti seperti dengan emosional seolah menikam serangga di atas kertas dengan penanya, tetapi setelah serangganya mati ia pun tidak puas, ia harus membunuh terus, dan tetap marah kepada istrinya yang walau sangat setia. Kebanyakan laki-laki bahkan tak tahu betepa beruntungnya di dampingi perempuan yang setia. Sungguh mengenaskan perempuan yang jadi istrinya, tak pernah berselingkuh dengan seorang perwira tentara atau mabuk di jalan, tapi suaminya tetap marah kepadanya dengan alasan yang sama sekali tidak masuk akal. Bukankah dengan itu lebih nyata laki-laki begitu lemah mentalnya dan inferior. Hanya perempuan lebih sering mengalah walau tahu yang mana benar?”

Dan ibu setiap kali bahkan tidak pernah gugup untuk menaab pertanyaan-pertanyaanku yang kadang-kdang kontroversial tentang sex dan perempuan. Aku pernah bertanya, mengapakah adam lebih dulu di cipta dari Hawa? Mengapa sebagian Teolog selalu gemar mengatakan bahwa Hawa hadir sebab Adam kesepian? Selalu sebagai objek dan seolah pantas ‘dipakai’ demikiankan permepuan. Mahluk semacam apakah ia? Kadang aku ingin berhenti bertanya dan segera mendapatkan jawaban, namun apakah ibu benar? Hal itu hanya dapat di jawab dengan logika yang negatif; mengatakan bahwa jawan ini bukan dan jawaban itu juga bukan.

IBU BEGITU TENANG DALAM PENAMPILANNYA, TETAPI GERSANG DAN KERING DALAM PSIKOLOGISNYA.

“Atas dasar apa suter tua itu menuduh ibumu ini bid’ah? Itulah yang tidak aku sukai dari Gereja—spekulatif—pendeta-pendeta itu begitu konyol karena merasa di kirim Tuhan; sedang orang-orang majusi yang gersang lebih berabad-abad dan dalam religius tanpa perasaan”sok” nabi semacam itu. Bukankah tidak ada satu nabi pun yang diturunkan di perbukitan Majusi?”

 

 

2

sebagai perempuan aku tidak dilahirkan sekuat ibuku, tak di ajari kekecewaan sedemikian rupa sehingga dengan mudah dapat mengerti kemunafikan yang dakndung tiap wajah manusai yang setiap kali selalu mendorongku untuk berempati; aku lemah? Sebab itulah kupikir percuma saja menunjukan perasaanku dengan empresif kalu hanya untuk  kalah; kukira banyak wanita sepertiku yang berpikiran semacam ini…..

4

MENCANGKLONG TAS KECIL…..[Diks?]

 

Suatu malam suster Magdalen datang bersua kerumah. Kukatkan padanya bahwa ibu tidak ada di rumah; dan memang maksud kunjungannya dalah untuk bertemu dengan ibu. Wajahnya terlihat ramah, dan dia adalah orang pertama yang datang kerumah ini untuk bertemu ibu semenjak lima belas tahun yang lalu.

Karena ibu tidak ada, suster Magdalen berkerasa untuk menuggu ibu, dan sambil menuggunya kami terlibat dalam percakapan yang hangat, ia menceritakan banyak hal tentang ayah dan ibuku, dan rupanya semaas muda dulu ia adalah seangkatan denga mereka…”Siapapun akan merasa bahagia sekaligus cemburu melihat ibumu, yang cantik, yang pengarang, yang religius dan yang berkasih indah di sepanjang jalan-jalan dekat Gereja ini…tapi enatah kenapa setelah lima bulan bertunangan, perniakhan yang di tunggu setiap orang di kota ini tidak pernah terlaksana dan kemudian setiap orang tahu dokter Ramses meningggalakannya untuk perempuan yang tdiak lain adalah sahabat dokter Ramses sendiri”

5

GALEN ADLAH SEORANG LAKI-LAKI YANG GENIUS, SEPERTI MEMPUNYAI JARINGAN SEL KHUSUS YANG TIDAK SAM DENGAN ORANG BIASA YANG DIANGGAP NORMAL….BETHOOVEN PERNAH DI TUDUH SEMACAM ITU, DAN HANYA PADA ORANG-ORANG GILA SAJA KEJENIUSAN BERFUNGSI SECARA BERLEBIHAN, DI TINGGALKAN ZAMANNYA NAMUN DI KENANG DI GENERASI YANG LALU TIBA…KETIKA SI GENIUS TELAH SEKARAT DI LIANG LAHAT!

 

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

 

 

[AWAL IRUMAH SAKIT JIWA; SETELAH CINTA YANG SALAH]

Malam yang merayap dalam larut itu mulai lenyap di susul pagi. Fajar mengintip di timur yang berkabut dan kedinginan; warna keemasan yang mempelangi itu pun tiada terlihat lagi. Lonceng gereja berdentum tertiup angin selatan, beradu dengan petir dan deras hujan yang membuta. Suaranya mendayu berlari-lari sepanjang tembok rumah di gang itu.

Dalam kedinginan yang membekukan itu, ketika tidak banyak orang sadar akan suatu kehidupan yang asli, siapakah yang perduli dengan suatu dunia kecil yang sesungguhnya adalah bagian dari kehidupan juga? Kehidupan kecil di suatu rumah sakit jiwa.

Siapakah yang ikut memikirkan apa yang tengah terjadi disana, yang teralami oleh mereka yang juga adalah manusia? Rasa kesepian dan rasa penderitaan yang membuat setiap orang terserang emosinya dengan aneh bahkan walau sekedar menyaksikan dunia kecil tanpa suatu emosi yang mendalam.

Dalam rumah sakit jiwa itu Galen kembali membenamakan dirinya di balik selimut tabal berwarna merah dengan gambar-gamabar aneh yang dirujuknya sebagai gambaran iblis dan malaikat. Gambar itu hanya berbentuk gumpalan warna warna tebal yang di buat sebagai suatu motif dengan intrepretasi yang lebih pribadi. Kadang-kadang gambar itu di rujuknya sebagai suatu keinginan yang menggebu untuk menyakiti atau yang mesti disakiti.

 

 

Sebelumnya, biyar kukatakan ini padamu Nyonya; jangan memakai penalaran karena ia tidak dapat diyakinkan; jangan sedih dengan penderita melankolia karena kesedihanmu hanya akan memperburuk kondisinya; jangan membawa udara kegembiraan padanya karena mereka hanya akan disakiti belaka oleh kegembiraan. Biarkan akalmu saja menjadi aturan bagi hubungan mereka.

Didalam tubuh mereka ibarat tinggal sehelai saraf yang masih bergetar di dalam diri mereka, yang membuat mereka menderita; beranikan dirimu untuk mencabutnya, itu saja!”

Latar belakang dan kegilaan galen

Mereka tidak pernah bertemu lagi.

Mereka tidak pernah bertemu lagi. Mungkin tidak akan pernah?

Sementara hari ini tiga bulan sudah berlalu semenjak hari yang hujan itu. Dan kini musim hujan sudah berlalu. Hari-hari ditimpa terik. Matahari tropis menyengat berlebihan.

 

[]

Dan ia, selalu seperti sedang melacak -diantara gejala dan manifestasinya—sebuah profile kesedihan, kegelapan, kelambanan, ketidak bergerakan tertentu yang membuatnya tidak lagi bisa memunculkan sebuah humor kecuali dengan kering. Yang dipikirkannya  hanya sebuah ide tidak menentu yang akan membuatnya menjadi fatal dan rawan sebagai seorang laki-laki muda yang mencintai kesenian dan ilmu pengetahuan.,

Apa yang dipikirannya adalah tentang ketakutan dan terror yang irrasional. Dan aku tidak bisa menduga sama sekali atau sekedar mengamati gejala yang membuatnya menjadi kaku dan bersikap tidak menentu.

Bahkan ia menjadi merasa sangat bodoh jika mesti menemukan logika rahasia atas kehendak pikiran yang sering tidak menentu, yang mengontrol perkembangan ide dan kejiwaanya menjadi seorang yang melankoli, Skizofrenik dan gila.

Dan bila mesti menembus kualitas yang tersembunyi di balik ide kesedihan dan ketakutannya, ia berubah menjadi seorang yang unik, lucu dan bahkan kekanak-kanakan. Ini memang  hal yang tidak sederhana, karena bagaimanapun juga, yang berlaku dengan sikap kacau dan tidak menentu adalah tersembunyi dalam benih yang sama dalam atas masalah-masalah yang peka, yang menjelaskan gerakan-gerakan paradoks dari ide dan tindakan irasionalnya.

Sementara itu aku terus menyimak yang terjadi dalam kehidupannya dan berharap bisa membantu. Atau mungkin ada alasan lain yang aku sendiri tidak dapat menemukannya sebagai keinginanku yang kuyakini sebagai gagasanku sendiri;

 

 

Substansi dipancarkan menjadi kualita-kualitas, dari humor kepada ide, dari organ-organ kepada hubungan; sebuah bukti bahwa sari melankolis memproduksi melankolia yang di dalamnya Galen menemukan kualitas yang sama dengan penyakit.

Sari melankolis memiliki sebuah tataran yang jauh lebih besar dari kondisi-kondisi yang di perlukan untuk memproduksi melankolia daripada kemarahan yang berapi-api; karena melalui kedinginannyaa, ia mengurangi kuantitas roh; melalui kekeringannya, ia membuat mereka memelihara tipe imajinasi yang kuat dan teguh untuk waktu yang lama; dan melalui kehitamnnya, ia mencabut mereka dari kepelikan alamiahnya.

 

Dalam kelurganya ia tumbuh menjadi seorang pendiam yang jenius, ia menjadi seorang profesor politik yang habat, menjalani hari-harinya dengan banyak mebaca buku dan menulis esai-esai politik yang sering menjadi rujukan.

Suatu hari suatu kecelakaan yang ironis menimpanya, entah sebagai hukuman ataukah cobaan. Pada ketika itu ia mabuk di kafee setelah pertengkaran yang biasa. Kembali kerumah dan mengendarai mobilnya dengan kacau sampai ahirnya dalam kegelapan ia tertabrak, dan satu kakinya harus bertahan dalam kepincangan.

Ia terkapar dalam kelemahan dan sebulan dirumah sakit benar-benar membuatnya lemah dan putus asa. Ia selalu khawatir saat ia melihat lebam merah hitam di sekujur tubuhnya, ia melihat luka yang menggores tangan dan kepalnya. Namun ia menjadi sangat marah dan putus asa saat ia merasakan nyeri di sendi kakinya. Ia melihat kakinya yang di balut dengan kain putih tebal setelah di operasi. Dari informasi yang di sampaikan dokter, ia menjadi tahu bahwa kakinya akan pincang untuk seumur hidupnya atau jika tidak diamputasi.

Dalam lemahnya ia sering bermimpi bahwa kakinya di operasi dan ia mulai menjalani hidup dengan berjalan dia atas bumi tanpa sebuah kaki. Ia lalu terbangun dan keringat dingin mengucur di tubuhnya dengan deras.

Dalam masa perawatannya ia makin membisu dan seperti kehilangan akal sehatnya ia hampir tidak pernah bicara pada siappaun. Namun kesabaran dan pengertian itsrinya yang setia bisa mengatasi semunya.

Hari demi hari berlalu dengan bisu dan pilu. Orang-orang yang mengenalnya, sahabat dan musuh, datang menjenguk dengan penuh simpati dan rasa iba, namun hampir semua daintara mereka tidak satupun yang dapat membujuknya berbicara, atau bercanda sepereti biasanya. Maka dalam pikirannya yang jauh ia berpikir inilah moment yang tepat untuk mengahiri semua kepalsuan persahabatn dan komunikasi basa-basi yang selama ini di lakoninya dengan antusias, namun kering, dan sesungguhnya ia tidak perduli dan menertawakan semua itu.

Dalam dingin dan diamnya, bayang-bayang ketakutan dan obsesi berkelabat silih berganti dengan cepat di alam bawah sadarnya. Ia mengingat masa kecilnya yang degil. Ia ingat bagaimana ia sewaktu kecil tidak pernah menyukai buku dan sekolah, semuanya dianggapnya omong kosong. Bahkan ia untuk beberapa kali tidak lulus study sebelum ia mencapai puncak normatif kelimuwannya sebagai seorang intelektual yang mampu, dengan kritis, menggaris bawahi antara kepentingan dan ilmu pengetahuan.

Masa kecilnya ia lalui dengan hari-hari yang ceria dan mencari jawaban atas kegelisahan kanak-kanak yang seringkali berkelebat dalam pikirannya. Ia selalu menjalani kehidupannya dengan aneh, merokok, mengamuk, dan memcahkan kaca-kaca seperti tidak sadar. Namun kesabaran dan tradisi intelektual serta cara hidup keluarganya yang religius sebagai pengannut Tuhan monoteis membuatnya berubah. Ia mulai meninggalakan masa kanak-kanaknya yang penuh dengan permainan dan sesuka hati, kegilaan masa muda menuju hidup yang lebih sepi dan penuh tanggung jawab pada pikirannya sendiri.

Ia pun melewati hari-hari dengan banyak membaca buku dan mengkaji kitab-kitab Tuhan dengan penuh keresahan dan ketakutan. Ia menjadi pemuda yang di segani dan dan cintai sahabat-sahabatnya, para perempuan seumurnya, walaupun ia hampir tidak pernah meperdulikan penampilan fisik dan tubuhnya. Ia menjadi seorang muda yang gelisah akan banyak ajaran. Ia adalah yang kuat untuk menahan dingin malam dan gerimis hujan, sepi dan kericuhan jalanan untuk tetap berpusat pada dirinya sendiri, pikiran dan ide-ide halusinatifnya.

Galen kecil mulai banyak membaca buku-buku yang tidak semuanya baik menurut aturan keluarga dan agama yang di anut kelurganya, setidaknya menurut ibunya. Ia mulai membaca buku-buku yang menyimpan mimpi-mimpi dan kisah-kisah pergolakan. Ia menjadi mengenal kepiliuan dalam perubahan, kesia-siaan dalam perjuangan manusia, cerita kepahlawanan yang hanya sekali dan sebentar, cerita para pahlawan sebelum ahirnya ia dianggap sebagai pemimpi atau seorang yang gila.

Masa kecilnya mulai menjadi rawan dan menghawatirkan. Galen kecil sering berjalan sendirian ketika malam, melupakan istirahat dan tidur pada jamnya. Ia mulai menjalani hidup dengan berteman alkohol bersama para penjudi kota di pinggir jalan atau di pojok-pojok stasiun. Dan akibatnya ia mengalami depresi yang rawan dan untuk separuh hidupnya ia jalani dengan berkawan seorang psikiater.

Dari buku-buku tebal yang di bacanya, ia mulai bertemu dengan dirinya sendiri yang keras kepala, penuh keberanian yang tanpa perhitungan. Ia pun melewati hari-harinya dengan keras dan tegas. Ia benci dengan semua kelemah lembutan dan keharmonisan, terlebih kemanjaan. Dan kini bahkan ia mulai membenci byangan kemanjaan anak gadis, atau gagasan kelembutan dari seorang istri yang selalu setia; ia membenci dan melupakan sebuah mimpi kelurga yang pernah ia damba dan ia perjuangkan dengan hebat.

Ketidakberdayaan benar-benar membuatnya mengerti bahwa ia kini akan sampai mati melewati hari-hari dengan kaki yang pincang, dengan tubuh yang ringkih serta pikiran yang selalu gelisah. Kemana ia akan lari dari nasib yang membingungkan ini? Ia telah benci dengan politik, ia benci dengan cerita kemiskinan, dan derita manusia pabrik, perempuan pelacur, pembantu rumah tangga dan para laki-laki putus asa karena mengnggur. Ia putus asa, karena dirinya toh sama menderita dengan mereka. Penderitaan yang hanya bisa ia rasakan dan ia tanggung sendirian. Dan apa perduli orang-orang pada dirinya? Kenapa ia mungkin untuk memikirkan suatu empati dan rasa terimaksih dari orang lain sedangkan ia sendiri mengabaikan semuanya?

 

Ia mulai ingin melupakan kebahagiaan saat sebelumnya merasakan kebahagian kecil dari semua yang di berikan orang; perhatian, rasa terimkasih, perhatian, cinta atau kasih sayang jenis apapun. Ia kini telah menjadi yang acuh dan tidak perduli segala sesuatu keculai ia yang dengan kerja keras mengerjakannya.>>>>

 

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 14, 2011 in BERBAGI

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: