RSS

PEMBERIAN HADIAH DAN SUAP

20 Mar

PEMBERIAN HADIAH DAN SUAP

Menyuap ataupun disuap diharamkan oleh islam tidak lain karena salah satu dari bentuk kemaksiatan dan kemungkaran. Suap adalah sarana untuk membatilkan kebenaran, atau membenarkan kebatilan. Islam mengharamkan dan menjadikannya haram untuk dimakan, yang menanggung dosa adalah penyuap, penerima suap, dan mediator (duta dari penyuap dan penerima suap).

Sebenarnya memberikan suatu materi kepada orang lain tidak selalu identik dengan praktek suap. Dalam syariat islam, dikenal istilah hadiah atau hibah. Menurut istilah hukum fiqh, hadiah adalah pemberian sesuatu dengan tujuan mengekspesikan kecintaan, atau setidaknya bertujuan mendapat pahala. Hadiah biasanya diberikan kepada keluarga, teman, tetangga, para ulama, atau siapapun yang dianggap baik dan di cintai, oleh karena itu hadiah pada dasarnya merupakan tindakan wajar.

Lalu bagaimana dengan suap? Dalam prakteknya kegiatan suap menyuap mempunyai arti hampir sama yaitu memberikan sesuatu, baik dalam bentuk materil maupun barang dengan tujuan memperoleh sesuatu karena dasar kepercayaan atas apa yang dilakukan oleh penerima. Apabila dilihat dari segi objek siapa yang biasanya dapat menerima suap, hal ini akan menjadi hampir sama pula dengan objek siapa yang biasanya menerima hadiah, yaitu salah satunya bisa diberikan kepada keluarga, rekan/teman, tetangga, para pejabat (para ulama) atau siapapun yang di anggap bisa, disayangi, dicintai, disukai, dan mampu dipercaya, oleh karena itu saya kira suap juga bisa dikatakan sebagai tindakan yang wajar pula.

Pemberian Hadiah dan Pemberian Suap/Menyuap menurut saya akan menjadi sesuatu yang ambigu baik secara harfiah maupun pengertian istilah. Dalam bukunya Aqil Siradj Said, Dkk, yang berjudul kumpulan khutbah Jum’at (Membangun Bangsa Bermartabat tanpa Korupsi), Jakarta: Tim Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi, cetakan 1, tahun 2005, halaman 180 mengatakan “dalam realitas kehidupan masyarakat dewasa ini, hadiah telah bercampur dengan berbagai motifasi dan bahkan bergeser dari tujuan utamanya, jika hadiah diberikan kepada orang yang memiliki kekuasaan, wewenang, atau jabatan, maka tidak mustahil pemberian itu memiliki maksud-maksud tersembunyi”.

Mengenai hal tersebut kalau melihat apa yang dituliskan dibukunya Aqil Siradj Said, perbuatan suap tidak hanya dikhususkan pada orang yang mempunyai kekuasaan, wewenang, dan jabatan saja. Tetapi objeknya bisa juga orang yang tidak sama sekali mempunyai jabatan yang di sebutkan di atas bisa saja kesemua golongan dan pastinya mesti ada maksud-maksud tersembunyi juga. Begitu pula dengan kegiatan pemberian hadiah, ini juga bisa diberikan kepada orang yang mempunyai jabatan, kekuasaan dan wewenang saya kira dan tentunya juga mesti ada maksud-maksud tersembunyi.

Dalam buku “Hukum Suap dalam Islam” halaman 25-26 yang ditulis oleh A. Aziz Masyhuri yaitu. Hal-hal yang bisa disamakan dengan suap adalah hadiah. Definisi Hadiah menurut istilah adalah sebagai berikut:

  1. Hadiah adalah sesuatu yang diberikan seseorang tanpa adanya syarat yang mengecualikan risywah.
  2. Hadiah adalah memberikan harta benda kepada orang lain tanpa adanya tuntutan atau pamrih.
  3. Hadiah adalah harta benda yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain, dengan tidak mengharapkan bantuan dari orang yang telah diberikan hadiah tersebut.
  4. Hadiah adalah sesuatu yang diberikan dengan tujuan sebagai bukti kasih sayang, persahabatan dan untuk memperoleh pahala kepada para kerabat, teman, guru, dan orang-orang shaleh yang dianggap baik.

Dibawah ini saya akan memeberikan beberapa deskripsi tentang sikap, perilaku, dan praktek pemberian hadiah dan suap tidak hanya diberikan kepada orang yang mempunyai wewenang, kekuasaan, dan jabatan saja. Karena menurut saya pemberian hadia dan suap bisa juga di berika kepada orang-orang yang tidak mempunyai tiga hal tersebut.

Contoh kasus 1:

Anggap saja sekarang saya sedang bekerja di sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang ekspor dan impor sebuah produk makanan. Biasanya dalam setiap perusahaan apapun dan tidak hanya perusahaan saya kira pada tataran lembaga pemerintahan biasanya juga setiap manager/pemimpin sebuah perusahaan maupun lembaga pemerintahan tentunya akan memberikan hadiah baik berupa kenaikan jabatan, uang maupun barang kepada para bawahan-bawahannya yang bekerja secara baik, giat, jujur, disiplin, cerdas,pintar, teliti dan sebagainya. Suatu hari saya memperoleh penghargaan/ hadiah dalam bentuk barang ataupun uang karena prestasi saya yang bekerja dengan giat, disiplin, jujur, teliti dan sebagainya sesuai aturan yang berlaku di situ. Sehingga saya di percaya dan diangkat menjadi tangan kanan manager/pemimpin sampai sekarang, sehingga saya semakin tahu keseharian manager/pemimpin saya tersebut, sampai suatu saat manager saya menjanjikan akan memberikan hadiah yang lebih besar kepada saya apabila saya tidak membongkar kasus perselingkuhan manager saya dengan rekan bisnisnya kepada istrinya. Namun tidak hanya itu juga manager/pemimpin menyuruh saya, pada saat itu saya di suruh untuk memanipulasi beberapa berkas/data yang disiapkan untuk keperluan laporan pertanggungjawaban.

Contoh kasus 2:

Saat itu saya sedang di tugaskan oleh pimpinan saya untuk mengambil barang di perusahaan lain yang jarak tempuhnya kira-kira 3 jam perjalanan dengan menggunakan motor, tiba-tiba setelah separuh perjalanan saya dikagetkan dengan adanya penertiban surat-surat kendaraan/berkendara oleh petugas di daerah tersebut, awalnya saya bersikap tenang-tenang saja karena saya kira membawa SIM dan Surat-Surat berkendara yang lain, lalu saya serahkan SIM dan surat-surat yang lain kepada petugas, namun tiba-tiba petugas bertanya kepada saya perihal STNK motor ini ada tidak pak? Saya pun menjawab ya itu pak STNKnya. Petugas tersebut menjawab ini bukan STNK motor ini pak, ketika saya cek lagi ternyata benar bahwa STNKnya bukan STNK motor yang saya bawa. Akhirnya petugas tersebut menjelaskan kepada bahwa saya harus mengikuti siding di pengadilan, dan waktunya kira-kira sekitar hampir 3 minggu kedepan, karena saya tidak mau terlalu lama berurusan dengan petugas tersebut akhirnya saya mengeluarkan uang yang saya kira cukup untuk diberikan kepada petugas tersebut agar saya dibebaskan untuk tidak mengikuti siding, mendapatkan STNK yang di tahan sementara, dan saya bisa langsung bergegas mengambil barang yang di tunggu oleh atasan saya dikantor, awalnya, petugas tersebut tetap besikukuh agar saya tetap mengikuti persidangan tapi setelah saya jelaskan perihal kepentingan saya yang mendesak akhirnya petugas tersebut mau menerima permintaan saya.

Setelah menerima uang yang saya kira cukup banyak ketimbang yang harus saya keluarkan apabila saya mengikuti persidangan, petugas tersebut hanya berpesan kepada saya agar lebih teliti lagi saat mau bepergian, cek kembali kelengkapan-kelengkapan berkendara dan mengucapkan selamat bertugas kepada saya. Dan saya pun mengiyakan pesan yang disampaikan oleh petugas trsebut, lalu saya langsung pergi untuk mengambil barang yang sudah di tunggu oleh atasan saya.

Dari beberapa uraian di atas sedikit bisa saya simpulkan bahwa pemberian hadiah pemberian sesuatu kepada orang lain tanpa adanya paksaan, kondisi/ keadaan baik penerima maupun pemberi dalam keadaan berfikir yang normal, dan tidak menyalahi aturan, perundang-undangan dan hukum  yang berlaku. Sedangkan suap pemberian sesuatu kepada orang lain karena ada beberapa keadaan/ kondisi baik penerima,pemberi itu dalam keadaan/kondisi yang tertekan sehingga terpaksa melanggar aturan perundang-undangan dan hukum yang berlaku demi terpenuhinya kebutuhan atau kepentingan.

Dari deskripsi contoh maupun teori tentang persoalan suap dan hadiah diatas tentunya masih banyak kekurangan, kekeliruan, dan tentunya masih banyak contoh-contoh lainnya untuk di jadikan perenungan oleh kita semua, tapi setidaknya beberapa contoh diatas mampu memberikan pengertian tentang kenapa pemberian suap itu tidak di perbolehkan, dan saya berharap kepada pembaca semuanya semoga tulisan ini mampu memberikan sedikit tentang pengertian, perilaku, dan praktek seseorang yang memberikan hadiah ataupun suap. Mari kita bersama-sama mengkaji lebih dalam lagi tentang persoalan-persoalan yang sering terjadi didalam keseharian kehidupan kita. Apabila itu benar menurut Syar’I maka lakukanlah itu dengan benar pula, dan apabila salah maka cobalah untuk tidak mengulanginya lagi. Semoga bermanfaat. Terima kasih

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 20, 2011 in HUKUM

 

Tag: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: