RSS

NIKAH POLIGAMI DALAM PERSEPEKTIF HUKUM ISLAM

14 Mar

NIKAH POLIGAMI DALAM PERSEPEKTIF

HUKUM ISLAM

Perkawinan merupakan suatu ikatan yang sakral dalam membentuk sebuah keluarga. Pada dasarnya, semua agama di dunia ini menganjurkan penganutnya untuk  melaksanakan perkawinan yang akan mengatur  kehidupan serta pergaulan laki-laki dan wanita  secara sah. Asas perkawinan yang disyariatkan oleh islam adalah perkongsian atau agar ada hubungan yang halal dan di benarkan oleh hokum yang berlaku baik hokum islam maupun Negara supaya merasakan hidup yang kekal dalam suasana rumah tangga yang harmonis, bukan sekedar memenuhi tuntutan nafsu naluri semata-mata.

Islam menetapkan peraturan-peraturan yang lengkap termasuk dalam hal poligami atau mempunyai isteri lebih dari pada satu orang dalam satu waktu. Poligami merupakan salah satu persoalan yang kontroversial dan paling banyak dibicarakan.  Di satu sisi, poligami ditolak dengan berbagai macam argumentasi baik yang bersifat  normatif, psikologis bahkan selalu dikaitkan dengan ketidakadilan jender. Para penulis barat sering mengklaim bahwa poligami adalah bukti ajaran islam dalam bidang perkawinan yang sangat  diskriminatif terhadap wanita. Sementara pada sisi lain, poligami dikampanyekan karena dianggap memiliki sandaran normatif yang tegas dan dipandang sebagai  salah satu alternatif untuk menyelesaikan fenomena selingkuh dan prostitusi. Persoalan ini perlu diperjelas agar tidak ada  pihak-pihak yang dirugikan. Kajian berikut ini mencoba  melihat pendapat sekitar poligami

A. Pandangan Islam Tentang Hukum Pernikahan Poligami

Allah Swt. Berfirman yang artinya: “Nikahilah oleh kalian wanita-wanita (lain) yang kalian senangi dua, tiga, atau empat. Akan tetapi, jika kalian khawatir tidak akan dapat berlaku adil maka nikahilah seorang saja…” (QS an-Nisa’ [4]: 3). Berkenaan dengan ayat ini, ada beberapa hal yang perlu dipahami.

Pertama: ayat ini diturunkan kepada Nabi saw. pada tahun Kedelapan Hijrah, yaitu untuk membatasi jumlah istri pada batas maksimal empat orang saja. Sebelum ayat ini diturunkan, jumlah istri bagi seorang pria tidak ada batasannya. Ayat tersebut juga memerintahkan agar seorang suami yang berpoligami berlaku adil di antara istri-istrinya. Namun demikian, ayat tersebut lebih menganjurkan agar membatasi jumlah istri pada bilangan satu orang, jika memang ada kekhawatiran tidak dapat berlaku adil. Sikap semacam ini harus dimiliki oleh setiap Muslim.

Kedua: perlu digarisbawahi bahwa keadilan bukanlah syarat bagi kebolehan untuk melakukan poligami. Hukum ini wajib dimiliki oleh seorang suami dalam kehidupan berpoligami, di samping merupakan dorongan untuk membatasi jumlah istri pada satu wanita saja, jika memang ada kekhawatiran tidak dapat berlaku adil. Patut ditegaskan, dalam fikih Islam, istilah syarat itu digunakan untuk menunjuk pada kondisi atau perbuatan yang menjadi bagian dari perbuatan yang dipersyaratkan. Syarat ini biasanya harus dipenuhi sebelum perbuatan yang dipersyaratkan itu dikerjakan. Suci dari hadats dan najis, misalnya, merupakan syarat sah shalat. Kondisi tersebut harus dipenuhi sebelum shalat dan terus berlangsung sepanjang shalat dikerjakan. Realitas syarat semacam ini ini tentu tidak tepat jika dikaitkan dengan sifat adil suami yang ingin berpoligami. Andai adil merupakan syarat sah poligami, lalu bagaimana mungkin syarat itu bisa dipenuhi sebelum akad nikah terjadi, sementara perlakuan adil itu baru bisa dilakukan setelah pernikahan?

Ketiga: pengertian adil dalam ayat di atas berbentuk umum, yakni mencakup setiap bentuk keadilan. Akan tetapi, kata yang bersifat umum ini kemudian di-takhsîs (diperlakukan secara khusus), yaitu bahwa keadilan yang dimaksud hanya yang berada dalam batas-batas kemampuan manusia. Hal ini berdasarkan keterangan ayat yang lainnya. Allah Swt. berfirman: “Kalian sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri kalian, walaupun kalian sangat ingin berbuat demikian. (QS an-Nisâ’ [4]: 129).

Berkaitan dengan firman Allah Swt. yang maknanya, “Kalian sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil (QS an-Nisâ’ [4]: 129),” Ibn ‘Abbas ra. menuturkan bahwa Nabi saw. telah menjelaskan maksud ayat ini, yaitu dalam masalah cinta dan jimak. Maksudnya, dalam hal cinta, kasih dan kesenangan, memang tidak bisa berbuat adil, dalam arti sama. Karena itu, Allah Swt. menjelaskan, bahwa seorang suami mustahil bisa berlaku adil dan bersikap sama di antara istri-istrinya. Keadilan yang dibebankan oleh Allah Swt. atas diri seorang suami terhadap istri-istrinya adalah sebatas kemampuannya, dengan syarat, ia telah mengerahkan segala kemampuannya. Di samping itu, keadilan yang dituntut hanya khusus dalam hal yang bersifat material, yakni di luar masalah cinta dan kasih sayang. Sebab, manusia-bahkan Rasulullah saw. sendiri-tidak akan sanggup berlaku adil dalam perkara cinta dan kasih sayang. Pengertian semacam ini ditegaskan dalam hadis yang diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a. yang bertutur demikian: Rasulullah saw. pernah melakukan pembagian untuk isteri-isterinya, dan beliau pun berlaku adil, kemudian berdoa (yang artinya), “Ya Allah, sesungguhnya keadilanku ini berdasarkan apa yang aku sanggup lakukan. Oleh karena itu, janganlah Engkau cela diriku karena apa yang Engkau kuasai, namun tidak sanggup aku lakukan.” (Hr. Ibn Majah).

Atas dasar ini, keadilan yang diwajibkan atas seorang suami adalah bersikap seimbang di antara para istrinya sesuai dengan kemampuannya, yaitu dalam hal bermalam atau memberi makan, pakaian, tempat tinggal, dan lain-lain; bukan dalam masalah cinta dan kasih sayang yang memang berada di luar kemampuan manusia. Sementara itu, bahwa praktik poligami sering memicu berbagai kasus kekerasan dalam rumah tangga, hal ini sama sekali tidak bisa dijadikan alasan. Sebab, realitas itu terjadi karena praktik poligami tidak dijalankan sesuai dengan tuntunan Islam. Solusinya, tentu bukan melarang poligami, namun meluruskan praktik poligami yang salah itu. Lagipula, kekerasan dalam rumah tangga pada kenyataannya sering juga terjadi dalam perkawinan monogami. Sebabnya sama, sering karena rumah tangga tidak dijalankan sesuai dengan tuntunan Islam. Lalu, apakah lantaran itu monogami juga harus dilarang?

Alasan lainnya, bahwa wanita menjadi sakit hati dan tertekan karena suaminya menikah lagi, juga tidak tepat. Pertama: hal itu sering karena yang diperhatikan hanya istri pertama. Bagaimana dengan istri kedua, ketiga, atau keempat yang mungkin merasa terlindungi karena dipoligami, terutama jika sebelumnya mereka berstatus sebagai seorang janda? Kedua: perasaan tersebut hanya akan muncul akibat anggapan bahwa poligami sebagai sesuatu yang buruk. Itu terjadi karena kampanye masif yang dilancarkan kalangan antipoligami. Sebaliknya, jika istri menganggap poligami sebagai sesuatu yang baik, perasaan sakit hati dan tertekan akibat suaminya berpoligami tidak terjadi. Bahkan jika ia memahami poligami sebagai tindakan mulia, dengan sukarela dia mencari istri bagi suaminya sebagaimana yang terjadi pada sebagian kalangan aktivis Islam.

1. Imam Bukhari r.h. berkata (hadits 5230):

“Qutaibah meriwayatkan kepada kami dari Laits dari Ibnu Abi Mulaikah dari Miswar ibn Makhramah dia berkata,  saya mendengarkan Rasulullah s.a.w. bersabda dari atas mimbar, “Sesungguhnya Bani Hisyam ibn Mughirah meminta izin untuk menikahkan putri mereka dengan Ali ibn Abu Thalib Maka aku tidak mengizinkan, kemudian aku tidak mengizinkan, kemudian aku tidak mengizinkan. Kecuali putra Abu Thalib ingin menceraikan putriku dan menikah dengan putri mereka. Karena dia adalah darah dagingku, membuat aku sedih apa yang menyedihkannya dan menyakitiku apa yang menyakitinya.”

Hadits Sahih dan diriwayatkan oleh Imam Muslim (2449), Abu Daud (2071), Turmudzi (3867, Ibnu Majah (1998), Nasa`i di dalam al-Fadhâ`il (265) dan di dalam al-Khashâ`ish (130), dan Imam Ahmad (4/328), dan di dalam kitab Fadhâ`il al-Sahabat (Keutamaan Sahabat) (1328).

2. Imam Bukari r.h. berkata (hadits 3729):

“Abu Yamân meriwayatkan kepada kami dari Syu’aib dari Zuhri dia berkata, Ali ibn Husain meriwayatkan kepadaku bahwa Miswar ibn Makhramah berkata, Sesungguhnya Ali meminang anak perempuan Abu Jahal. Kemudian Fatimah mendengar tentang hal itu lalu kemudian dia datang kepada Rasulullah s.a.w. dan berkata, “Kaummu mengira bahwa kamu tidak marah karena putri-putrimu. Dan ini Ali (ingin) menikahi anak perempuan Abu Jahal.” Lalu Rasulullah s.a.w. berdiri, maka dia pun berdiri. Kemudian aku mendengarkan Beliau ketika mengucapkan tasyahhud (seperti pada khutbah) dan berkata, “Amma Ba’d, Aku telah menikahkan Abu Âsh ibn Rabî’ kemudian dia berbicara kepadaku dan jujur kepadaku.  Dan sesungguhnya Fatimah adalah darah dagingku dan aku tidak senang ada sesuatu yang menyakitinya. Demi Allah, tidak berkumpul anak perempuan Rasulullah s.a.w. dengan anak perempuan musuh Allah pada satu laki-laki. “Kemudian Ali meninggalkan pinangannya”.

Hadits Sahihd dan diriwayatkan oleh Imam Muslim (halaman 1903-1904), Abu Daud (nomor 2069), Ibnu Majah (hadits (1999) dan al-Muzzi menisbatkannya juga kepada riwayat Nasa`i.

3. Imam Bukhari r.h. berkata (hadits 3110):

“Sa’id ibn Muhammad al-Jarmi meriwayatkan kepada kami dari Ya’qub ibn Ibrahim dari ayahnya bahwa Alid ibn Kutsair meriwayatkan kepadanya dari Muhammad ibn ‘Amar ibn Halhalah al-Daili dari Ibnu Syihab dari Ali ibn Husain bahwa mereka ketika datang ke Madinah dari tempat Yazid ibn Mu’awiyah pada waktu terbunuhnya Husain ibn Ali r.a., Miswar ibn Makhramah menemuinya lalu berkata kepadanya, “Apakah kamu ada keperluan yang bisa kamu perintahkan aku dengannya.” Lalu aku jawab kepadanya, “tidak ada.” Lalu dia berkata, Lalu apakah kamu (mau) memberikan kepadaku pedang Rasulullah s.a.w. itu? Maka sesungguhnya aku khawatir kaum tersebut mengalahkanmu atasnya (lalu dapat merebutnya). Dan demi Allah, jikalau kamu memberikannya kepadaku niscaya tidak akan mereka dapatkan selama-lamanya sampai dicabut nyawaku. Sesungguhnya Ali ibn Abu Thalib pernah melamar putri Abu Jahal atas Fatimah a.s. Kemudian aku mendengarkan Rasulullah s.a.w. menyampaikan khutbah kepada orang-orang dalam masalah itu dari atas mimbarnya ini-dan aku ketika itu sudah dewasa (baligh). Lalu Beliau berkata, “sesungguhnya Fatimah adalah dariku dan aku sangat khawatir dia mendapatkan fitnah pada agamanya.” Kemudian Beliau menyebutkan kerabatnya (dari ikatan perkawinan) dari Bani Abd Syams dan memberikan pujian kepadanya dalam kekerabatan mereka dengannya. Beliau berkata, “dia berbicara padaku maka dia jujur kepadaku, dan dia berjanji kepadaku maka meyempurnakan janjinya kepadaku. Dan sesungguhnya aku tidak mengharamkan apa yang halal dan tidak menghalalkan apa yang haram. Akan tetapi, demi Allah, tidak berkumpul putri Rasulullah dan putri musuh Allah selama-lamanya.”

Hadits Sahih dan diriwayatkan oleh Imam Muslim (2449), Abu Daud (2069), Ibnu Majah (1998), dan dinisbatkan oleh al-Muzzi kepada riwayat Nasa`i.

Hadits no.1 memang jelas menggambarkan penolakan Rasulullah terhadap rencana Ali untuk menikah kembali. Namun, hadist inilah yang sering dijadikan alasan orang-orang yang menolak poligami.

Padahal, jelas dalam hadist ke.2, dijelaskan mengapa Rasulullah saw. Menolak rencana Ali menikah lagi karena tidak berkumpul anak perempuan Rasulullah s.a.w. dengan anak perempuan musuh Allah pada satu laki-laki.

Hadist no.3 malah lebih gamblang menyatakan bahwa poligami itu halal untuk dilakukan. Rasulullah saw. Tidak mengharamkan apa yang halal dan tidak menghalalkan apa yang haram. Dalam hal ini, yang halal adalah menikahnya laki-laki lebih dari satu istri.

Sungguh aneh, sahabat Rasulullah, salah satu orang yang pasti dijanjikan surga oleh Allah, melakukan perbuatan yang dilarang. Terang sekali dalam uraian hadits tersebut, Ali tanpa persetujuan Fatimah dan Rasulullah melamar putri Abu Jahal. Namun, satu hal yang tidak diketahui Ali adalah bahwa Abu Jahal adalah musuh Allah. N/A 10:13, 8 Desember 2006 (UTC)

B.HUKUM POLIGAMI

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa hukum menikah adakala wajib, sunat, atau makruh sesuai keadaan seseorang. Kita dapat melakukan hal yang sama terhadap poligami, dan kemampuan memenuhi hak-hak isterinya. Pada dasarnya, poligami itu hukumnya mubah (boleh) seperti yang diisyaratkan oleh firman Allah SWT dalam Surat An-Nisa’ ayat 3. Ayat ini menjelaskan kehalalan poligami dengan syarat dapat berlaku adil. Jika syarat ini tidak dapat dipenuhi di mana suami yakin bahwa ia akan melakukan kezaliman dan menyakiti isteri-isterinya, dan tidak dapat memenuhi hak-hak mereka dengan adil, maka poligami menjadi haram. Jika ia kemungkinan besar menzalimi salah satu isterinya, maka poligami menjadi makruh. Namun jika ia yakin akan terjatuh kepada perbuatan zina maka menjadi wajib atasnya (Arij, 2003: 32). 

PENUTUP

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa sampai  sekarang poligami telah menjadi hal yang kontroversial di tengah masyarakat kita. Perbuatan seorang laki-laki mengumpulkan dalam tanggungannya lebih dari satu isteri ini menjadi perdebatan pro dan kontra yang tak kunjung selesai. Landasan Firman Allah SWT yang memberikan legitimasi kebolehannya pun tak cukup menghentikan polemik seru ini. Penolakan baik halus maupun kasar dilontarkan dengan beragam cara dan metode. Tujuannya adalah bagaimana kebijakan Allah SWT yang satu ini semustahil mungkin kalau bisa dinihilkan untuk digunakan. Sebahagian yang tidak setuju sedemikian ektrim sampai menolaknya dengan harga mati.

Islam tidak menjadikan poligami sebagai sebuah kewajiban atau hal yang disunahkan bagi kaum Muslim, tetapi hanya menjadikannya sebagai sesuatu yang mubah, yakni boleh dilakukan jika memang dipandang perlu. Imam Asy-Syafii menyatakan bahwa telah diriwayatkan dari Ali r.a., Umar r.a., dan Abdurrahman bin ‘Auf r.a., bahkan tidak ada seorang Sahabat pun yang menentang kebolehan poligami ini hingga batas maksimal empat orang. Pendapat serupa juga dituturkan oleh Abu Syaibah dari mayoritas thabi’in, Atha’, Asy-Syafi’i, Hasan, dan sebagainya.

Karena poligami merupakan hukum syariah yang tercantum di dalam al-Quran dan Hadis Nabi saw. secara jelas, maka penentangan/penolakan terhadap kebolehan hukum poligami sebenarnya merupakan penentangan terhadap hukum Allah. Dan inilah yang sebenarnya sedang terjadi. Peradaban Kapitalis dan propaganda Barat sendiri terus berupaya menjadikannya sebagai senjata untuk menyerang Islam. Mereka telah menggambarkan hukum tentang poligami-sebagaimana hukum Islam yang lain seperti jihad-dengan gambaran yang keji dan busuk. Faktor utama yang mendorong mereka menistakan poligami semata-mata untuk menikam Islam dengan embel-embel ‘membela perempuan’. Kalau memang benar membela perempuan, mengapa mereka diam dan bahkan mendukung pornografi dan pornoaksi yang secara faktual merendahkan harkat dan martabat perempuan. Mengapa mereka membiarkan perselingkuhan/perzinaan yang nyata-nyata merugikan perempuan (para istri)? Alasannya jelas, karena pornografi, pornoaksi, dan perzinaan adalah produk andalan liberalisme/sekularisme. Na’ûdzu billâh!

Daftar Pustaka

Ahmad, Sahal Hasan, Arij as-Sanan2003.Al-‘Adlu Baina Az-Zaujaat Abdurrahman,

PT.Global Media Cipta Publising, Jakarta.

Azhari  Tarigan dan Amiur Nuruddin, 2004. Hukum Perdata Islam di Akmal,

Indonesia, Kencana, Jakarta.

Karya Toha Putra, 1996. AL-Qur’an al-karim dan TerjemahannyaSemarang.

Pembebasan Perempuan, Ali Engineer, Asghar, 2005,   Pustaka Ibnu Engineer, Bogor.

Nasution, Khoeruddin, 1996. Riba dan Poligami, Sebuah Studi atas Pemikiran Muhammad   Abduh, Pustaka Pelajar, Yokyakarta.

Shihab, M. Quraish, 2005. Wawasan Al-qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Berbagai persoalan Umat, Mizan, Bandung.

Syarif Sukandi, Muhammad, 1998. Terjemahan Bulughul Maram Figh Berdasarkan Hadist,       Al-Haramain, Singapore.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 14, 2011 in HUKUM

 

Tag: , , ,

2 responses to “NIKAH POLIGAMI DALAM PERSEPEKTIF HUKUM ISLAM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: