RSS

Konsep Pendidikan Inklusi

09 Mei

Konsep Pendidikan Inklusi

Di dalam pendidikan inklusi, ada kredo atau prinsip pendidikan inklusi, yakni ” selama memungkinkan, semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka. Selama ini, pandangan yang beredar di masyarakat menyatakan bahwa pendidikan untuk anak “cacat”adalah SLB. Hal ini agar mereka dapat dididik di lingkungan yang tidak tercampur dan bisa berkonsentrasi pada mereka. Namun sistem ini memiliki beberapa kekurangan, terutama untuk proses sosialisasi mereka.

Dominasi sistem pendidikan yang eksklusi tidak hanya berdampak negatif bagi anak-anak yang kurang beruntung tersebut namun juga menjadi beban bagi masyarakat, karena mereka yang tidak berpendidikan dan terasing menjadi semakin terpinggirkan selain kemungkinan tersia-sianya potensi masyarakat. Eksklusivitas menutup pintu kesempatan bagi anak untuk memperoleh pendidikan. Karenanya, sistem pendidikan inklusi bertujuan untuk menekan dampak tersebut dengan memberikan lebih banyak kesempatan kepada anak dengan kebutuhan khusus, betapa pun kurang beruntungnya mereka, dan dengan meningkatkan kemandirian dan partisipasi individu dalam masyarakat.

Dalam menjadikan sekolah inklusi, perlu ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan. Tahapan – tahapan tersebut antara lain:

1.Sosialisasi

Fungsi sosialisasi sangat penting untuk membangun pra-kondisi lingkungan sekolah dan juga kesiapan mental baik bagi siswa maupun para guru.

2.Persiapan sumber daya (preparing resources)

Persiapan sumber daya di sini adalah yang menyangkut kesiapan peralatan peraga untuk simulasi dan kesiapan ketrampilan tenaga pelaksana pendidikan. Kelengkapan peraga untuk pendidikan inklusi memang lebih kompleks dibanding dengan alat peraga ajar yang umum digunakan. Sehingga dituntut kreatifitas dari guru untuk melakukan simulasi proses belajar mengajar. Sementara persiapan tenaga pelaksana pendidikan adalah dengan melakukan pelatihan (training) tentang beberapa metode pelaksanaan pendidikan inklusi kepada para guru.

3.Uji coba (try out) metode pembelajaran.

Sosialisasi pendidikan inklusi dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara umum tentang maksud dan tujuan pendidikan inklusi kepada tenaga pengajar, siswa, dan orang tua.

3. Pendidikan Inklusi dalam Pandangan Islam

Di dalam Islam, pandangan terhadap kecacatan adalah hal yang sudah bersifat final, dalam arti bahwa dalam Islam tidak ada perbedaan persepsi di dalam memandang seseorang dari anggota tubuh. Dalam Islam, kemuliaan dan keutaman seseorang tidak didasarkan pada suku, warna kulit, maupun postur tubuh, namun lebih kepada akhlak dan ketakwaannya kepada Allah SWT.

Islam mengajarkan bahwa semua orang adalah sama, mempunyai hak dan kewajiban yang sama, baik di hadapan hukum, masyarakat, dan di hadapan Tuhan.

Islam juga mengajarkan bahwa semua orang berhak untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran tanpa memandang pangkat, golongan, kecacatan seserotang maupun hal-hal yang lain. Islam melarang keras melakukan diskriminasi dalam hal pendidikan. Allah berfirman di dalam Qur’an surat An-Naba’: 1-10:

Artinya:

1.Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,

2.Karena Telah datang seorang buta kepadanya

3.Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),

4.Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?

5.Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup

6.Maka kamu melayaninya.

7.Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).

8.Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),

9.Sedang ia takut kepada (Allah),

10.Maka kamu mengabaikannya.

Ayat di atas merupakan dasar pendidikan inklusi di dalam Islam, dan konsep inklusi yang terjadi hari ini adalah sama dengan konsep tersebut di atas. Ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa yang menimpa Ibnu Ummi Maktum, seorang tuna netra yang ingin belajar Al-Qur’an kepada Nabi, namun beliau memalingkan mukanya karena beliau sedang berbicara di depan para pembesar Qurays seperti Abu Jahal. Ayat di atas mengajarkan kita untuk tidak menolak siapa saja yang datang untuk belajar. Pembatasan kesempatan kepada seseorang untuk menuntut ilmu yang menjadi haknya berarti mengingkari ajaran Islam.

Melalui analisis komparatif, didapat lima titik singgung antara pendidikan Islam dan pendidikan inklusi, yakni:

a.Pendidikan sebagai kewajiban/hak;

b.Prinsip pendidikan untuk semua;

c.Prinsip non-segregasi;

d.Perspektif holistik dalam memandang peserta didik;

e.Cara memandang hambatan yang lebih berorientasi pada faktor eksternal, terutama lingkungan pendidikan.

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Mei 9, 2011 in BERBAGI, SOSIAL

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: